Bangkitnya 'Nggahi Kolo' di Festival Budaya, Tutur Leluhur Menyapa Modernisasi
- 30 Apr 2026 12:22 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima – Nggahi Kolo adalah salah satu dialek dalam Bahasa Bima (Nggahi Mbojo) yang dituturkan di Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Dahulu, bahasa ini terpisah dari Nggahi Mbojo, namun akibat akulturasi budaya, kini menjadi bahasa minor (bahasa yang hampir punah) dan lebih dikenal sebagai salah satu dialek dalam bahasa Bima.
Saat ini, Nggahi Kolo terancam punah karena penutur aslinya semakin sedikit dan didominasi oleh penutur Nggahi Mbojo atau Bahasa Bima standar. Padahal harus diakui Nggahi Kolo memiliki keunikan dan berbeda dengan dialek Bima secara umum (Mbojo).
Dan untuk menghidupkan kembali Nggahi Kolo yang dikenal kosakata atau tutur yang khas tersebut, kemudian digaungkan dengan suara lantang penuh makna menggema di panggung festival budaya oleh pemuda Kolo bernama Arman.
Lewat sajian bertajuk “Hamindoho Kolo” (kita semua Kolo), para pemain yang didominasi anak muda menghadirkan kembali kekayaan tutur bahasa leluhur yang kini kian langka.
Nggahi Kolo ungkap mereka bukan sekadar seni bertutur, tetapi juga sarat pesan moral, terutama tentang hubungan manusia dengan alam. Selain menghibur, tajuk tersebut juga menyentil keras realitas masa kini.
‘’Ini juga bentuk kritik terhadap kerusakan lingkungan. Karena leluhur kami di Kolo, telah lama mengajarkan hidup selaras dengan alam,’’ ujar Arman disela-sela pertunjukannya.
Dalam tembang itu juga lanjutnya menggaungkan serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli, termasuk hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya.
Aksinya ini pun menggugah perhatian penonton hingga mendapat sambutan tepuk tangan riuh. Karena harus diakui, sebagian besar baru mendengarkan Nggahi atau tutur Kolo yang dikenal dengan daerah pesisir tersebut.
Sementara itu Ketua Yayasan Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, S.E., M.Hum yang menginisiasi Festival Naskah dan Kebudayaan Bima 2026 tersebut mengatakan Nggahi Kolo kini berada di titik yang mengkhawatirkan.
“Yang mewariskan sudah sangat sedikit. Ini yang harus kita jaga bersama. Perlu ada rasa memiliki dan kemauan untuk belajar agar tradisi ini tidak hilang,” ujarnya.
Selain tutur bahasa, festival ini juga menampilkan kesenian khas Kolo lainnya, yang mana menggambarkan kehidupan leluhur yang dahulu hidup berpindah-pindah dan sangat bergantung pada alam, bahkan sebelum mengenal sistem bercocok tanam.
Melalui panggung budaya ini, generasi muda Kolo menunjukkan bahwa warisan leluhur masih bisa berdiri tegak di tengah arus modernisasi. Nggahi Kolo bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin nilai yang tetap relevan—bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga jati diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....