Pariwisata Budaya, Daya Tarik Sukerare
- 07 Apr 2026 22:02 WIB
- Mataram
Poin Utama
- DESA SUKARARA LOMBOK TENGAH
- TENUN KHAS LOMBOK
RRI.CO.ID, Mataram - Perkembangan Desa Sukerare sebagai destinasi wisata budaya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang berakar dari kekuatan tradisi yang tetap dijaga hingga hari ini. Keunikan aktivitas menenun yang masih dilakukan secara tradisional menjadi daya tarik utama yang membuat desa ini berbeda dari destinasi lainnya. Wisatawan yang datang tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi ingin melihat lebih dekat bagaimana budaya itu benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kepala Desa Sukerare, Haji Saman Budi, menjelaskan bahwa meningkatnya kunjungan wisatawan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat. Ia melihat bahwa kehadiran wisatawan tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga meningkatkan rasa bangga masyarakat terhadap budaya mereka sendiri.
“Kalau dulu mungkin dianggap biasa saja, sekarang masyarakat mulai sadar bahwa apa yang mereka miliki ini bernilai tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, wisatawan yang datang memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap proses menenun. Mereka tidak hanya tertarik membeli produk, tetapi juga ingin memahami bagaimana proses tersebut dilakukan dari awal hingga menjadi kain yang utuh. Hal ini membuat interaksi antara wisatawan dan masyarakat menjadi lebih dekat dan bermakna.
“Mereka biasanya tidak langsung beli, tapi lihat dulu prosesnya. Bahkan banyak yang bertanya, bagaimana cara membuatnya, berapa lama, sampai arti motifnya,” tambah Saman Budi dengan nada antusias.
Amin, selaku pengelola artshop, juga merasakan hal yang sama. Ia menyebutkan bahwa pengalaman langsung menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. “Kalau mereka sudah lihat prosesnya, biasanya lebih menghargai hasilnya. Karena mereka tahu ini tidak mudah,” ungkapnya.
| Baca juga: Kalau Identitas Hilang, Tenun Tinggal Cerita |
Tidak jarang wisatawan juga mencoba langsung menenun meskipun hanya sebentar. Pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Aktivitas sederhana ini justru menjadi momen yang paling diingat oleh para pengunjung.
Namun demikian, Saman Budi menegaskan bahwa dalam mengembangkan pariwisata, keaslian budaya harus tetap dijaga. Ia tidak ingin tradisi diubah hanya demi memenuhi selera wisatawan.
“Kita tidak boleh mengubah budaya hanya untuk pariwisata. Justru wisatawan datang karena keaslian itu,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata budaya di Sukerare tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pelestarian budaya yang terus hidup dan berkembang secara alami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....