Regenerasi Penenun Sasak, Menjaga Keberlanjutan Tradisi

  • 07 Apr 2026 21:36 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • TENUN KHAS LOMBOK
  • DESA SUKARARA LOMBOK TENGAH

RRI.CO.ID, Mataram - Keberlanjutan tradisi menenun di Desa Sukerare tidak hanya bergantung pada kemampuan para penenun saat ini, tetapi juga pada bagaimana generasi berikutnya mau melanjutkan warisan tersebut. Dalam sebuah obrolan santai, Pak Liatera Amin yang akrab disapa Amin membagikan pandangannya tentang pentingnya regenerasi penenun.

Amin sendiri merupakan pengelola Patuh Artshop di Desa Sukerare, Lombok Tengah, yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan penenun sekaligus wisatawan yang datang mengenal budaya tenun.

Sebagai pengelola artshop, Amin tidak hanya berperan dalam pemasaran produk, tetapi juga menjadi saksi hidup bagaimana tradisi ini terus diwariskan. Amin menjelaskan bahwa proses regenerasi di Sukerare berlangsung secara alami dalam lingkungan keluarga. Tidak ada sistem pendidikan formal khusus, tetapi pembelajaran terjadi dari kebiasaan sehari-hari.

“Di sini, anak-anak itu tidak dipaksa untuk belajar menenun. Tapi karena mereka setiap hari lihat orang tuanya menenun, lama-lama mereka ikut mencoba sendiri,” ujar Amin dengan nada santai namun penuh makna.

Menurutnya, kedekatan anak-anak dengan aktivitas menenun menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang belajar budaya yang hidup. Dari situlah, keterampilan menenun tumbuh secara perlahan dan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Amin juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi saat ini. Ia menyadari bahwa generasi muda sekarang hidup di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, yang secara tidak langsung memengaruhi minat mereka terhadap tradisi.

“Sekarang anak-anak sudah kenal gadget, media sosial, jadi memang beda dengan dulu. Tantangannya lebih besar,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah bagaimana menyesuaikan pendekatan tanpa harus menghilangkan nilai tradisi. Ia menyebutkan bahwa inovasi dalam produk dan cara memperkenalkan tenun bisa menjadi salah satu solusi agar tetap relevan di mata generasi muda.

“Kita harus bisa mengikuti perkembangan, tapi bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru bagaimana caranya supaya tradisi ini tetap menarik,” jelasnya.

Lebih jauh, Amin juga menegaskan bahwa peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam proses regenerasi ini. Jika lingkungan tetap menjaga dan memberi ruang bagi tradisi untuk hidup, maka generasi muda akan lebih mudah untuk mengenalnya dan kemudian melanjutkannya.

“Kalau di rumah masih ada yang menenun, anak-anak pasti akan lihat dan tertarik. Dari situlah awalnya,” tambahnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....