Proses Menenun Kain Sasak, Ketekunan Setiap Helai Benang
- 07 Apr 2026 21:25 WIB
- Mataram
Poin Utama
- TENUN KHAS LOMBOK
- DESA SUKARARA LOMBOK TENGAH
RRI.CO.ID, Mataram - Di Desa Sukerare, proses menenun bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan sebuah perjalanan panjang yang sarat makna dan ketekunan. Untuk memahami proses ini lebih dekat, Pak Liatera Amin yang akrab disapa Amin memberikan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana setiap helai benang dirangkai dengan penuh kesabaran. Amin sendiri dikenal sebagai pengelola Patuh Artshop, tempat yang tidak hanya menjual kain tenun, tetapi juga menjadi ruang bertemunya tradisi dengan para pengunjung yang ingin belajar.
Dalam kesehariannya, Amin tidak hanya berperan sebagai pengelola usaha, tetapi juga sebagai penghubung antara penenun dan wisatawan. Ia sering menjelaskan secara langsung proses pembuatan kain kepada pengunjung, termasuk kepada Beny saat keduanya terlibat dalam obrolan santai di sela aktivitas di artshop tersebut. Dari situlah percakapan tentang proses menenun mengalir dengan hangat dan penuh penjelasan.
Amin memulai ceritanya dengan menjelaskan bahwa proses menenun tidak sesederhana yang terlihat. Sebelum benang ditenun, ada tahapan panjang yang harus dilalui, mulai dari pemilihan bahan, pengaturan warna, hingga penyusunan pola yang harus benar-benar diperhatikan.
“Kalau dari awal sudah tidak tepat, nanti hasilnya juga tidak akan maksimal. Jadi semuanya harus diperhatikan dari awal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses ini masih dilakukan secara manual dengan alat tradisional yang sudah digunakan sejak lama. Tidak ada mesin modern yang menggantikan peran tangan manusia dalam pembuatan kain tenun Sukerare. Justru di situlah nilai utama dari tenun ini, karena setiap kain benar-benar lahir dari kerja tangan yang penuh ketelitian.
“Semua ini dikerjakan dengan tangan. Itu yang membuat hasilnya punya nilai lebih,” jelas Amin sambil menunjukkan alat tenun yang digunakan para penenun.
Ia juga menjelaskan bahwa waktu pengerjaan sangat bergantung pada tingkat kesulitan motif. Untuk motif yang sederhana, prosesnya mungkin tidak terlalu lama, namun untuk motif yang lebih kompleks, bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu.
“Kalau motifnya rumit, bisa lama sekali. Karena harus benar-benar teliti, tidak bisa terburu-buru,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa menenun memang mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesabaran dan konsistensi. “Kalau tidak sabar, pasti akan kelihatan di hasilnya. Jadi ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa,” ujarnya.
Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa proses ini tidak hanya menghasilkan kain, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran hidup bagi masyarakat Sukerare. Setiap helai benang yang disusun seolah menggambarkan perjalanan panjang yang penuh ketekunan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....