Motif Tenun Sasak, Bahasa Simbol yang Sarat Makna

  • 07 Apr 2026 21:17 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • TENUN KHAS LOMBOK
  • DESA SUKARARA LOMBOK TENGAH

RRI.CO.ID, Mataram - Di balik keindahan visual kain tenun Sukerare, tersimpan makna yang tidak selalu terlihat secara langsung. Motif-motif yang menghiasi setiap lembar kain bukan sekadar ornamen, melainkan bentuk komunikasi budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk memahami hal tersebut lebih dalam, Pak Liatera Amin yang akrab disapa Amin menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana makna itu hidup di tengah masyarakat.

Amin dikenal sebagai pengelola Patuh Artshop, salah satu tempat yang menjadi pusat aktivitas sekaligus ruang interaksi antara penenun dan wisatawan di Desa Sukerare. Melalui artshop yang ia kelola, Amin tidak hanya menjual produk tenun, tetapi juga menjadi penghubung antara tradisi dan publik yang ingin mengenalnya lebih dekat. Dalam kesehariannya, ia banyak berinteraksi dengan penenun sekaligus menjelaskan makna kain kepada para pengunjung.

Amin mulai menjelaskan bahwa setiap motif tenun memiliki cerita yang berbeda. Ia menekankan bahwa motif tidak dibuat secara sembarangan, melainkan melalui pemahaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

“Motif itu bukan sekadar gambar, tapi ada arti di dalamnya. Jadi tidak bisa asal buat,” ujarnya dengan nada tenang.

Ia kemudian menjelaskan bahwa banyak motif terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak, mulai dari bentuk alam, tumbuhan, hingga pola-pola yang memiliki nilai filosofis tertentu. Motif-motif tersebut menjadi cerminan hubungan manusia dengan lingkungan dan nilai kehidupan yang mereka pegang.

“Kalau kita lihat lebih dalam, motif itu seperti cerita. Ada yang menggambarkan kebersamaan, ada juga yang melambangkan harapan,” tambah Amin.

Amin juga menyinggung bahwa tidak semua orang memahami makna di balik motif yang mereka lihat. Banyak yang hanya tertarik pada keindahan visual tanpa mengetahui filosofi yang terkandung di dalamnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai budaya agar tidak sekadar menjadi komoditas.

“Kadang orang hanya lihat bagusnya saja, tapi tidak tahu artinya. Padahal itu yang paling penting,” jelasnya.

Amin menegaskan bahwa edukasi menjadi hal yang penting, terutama bagi generasi muda dan wisatawan yang datang. Ia berharap semakin banyak orang yang tidak hanya membeli, tetapi juga memahami nilai yang terkandung dalam setiap kain.

“Kalau orang sudah tahu maknanya, pasti mereka akan lebih menghargai. Karena ini bukan sekadar kain, tapi bagian dari budaya,” pungkasnya.




google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....