Nilai Ekspor dan Impor NTB Januari 2025 Merosot Drastis

  • 18 Feb 2025 16:34 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan nilai ekspor dan impor NTB pada Januari 2025 menurun drastis. Total nilai ekspor NTB tercatat sebesar US$ 3,89 juta, mengalami penurunan signifikan sebesar 97,12 persen dibandingkan Desember 2024.

"Jika dibandingkan dengan Januari 2024, penurunan ekspor bahkan mencapai 97,89 persen," ungkap Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, Selasa (18/2/2025).

Wahyudin menjelaskan anjloknya nilai ekspor NTB disebabkan oleh tidak adanya ekspor bahan mentah galian atau nonmigas pada Januari 2025. “Hal ini terjadi karena izin ekspor bahan mentah tersebut hanya berlaku hingga Desember 2024,” jelasnya.

Sementara itu, nilai impor NTB pada Januari 2025 tercatat sebesar US$ 38,12 juta, turun 51,74 persen dibandingkan Desember 2024 yang mencapai US$ 78,99 juta. Impor NTB pada bulan ini didominasi oleh Singapura (23,55 persen), Australia (19,93 persen), Tiongkok (14,43 persen), Jepang (13,37 persen), Pakistan (10,92 persen), serta negara lainnya (17,80 persen).

Kelompok komoditas impor dengan nilai terbesar pada Januari 2025 meliputi mesin-mesin dan pesawat mekanik (53,68 persen), gandum-ganduman (19,40 persen), karet dan barang dari karet (13,31 persen), mesin dan peralatan listrik (9,23 persen), kendaraan dan bagiannya (2,26 persen), serta berbagai produk kimia (0,89 persen).

Di sisi lain, komoditas ekspor terbesar pada Januari 2025 didominasi oleh perhiasan dan permata dengan nilai US$ 1.140.064 atau 29,32 persen dari total ekspor. Komoditas lain yang menyusul adalah daging dan ikan olahan senilai US$ 965.532 (24,83 persen), buah-buahan US$ 851.243 (21,89 persen), ikan dan udang US$ 729.983 (18,77 persen), garam, belerang, dan kapur US$ 110.193 (2,83 persen), serta biji-bijian berminyak US$ 40.884 (1,05 persen).

Wahyudin menambahkan bahwa mulai tahun 2025, ekspor NTB tidak lagi mencakup bahan mentah galian atau nonmigas dari PT Amman Mineral. “Bahan mentah kini mulai diolah di smelter, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan memberikan dampak positif bagi perekonomian NTB,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....