Renungan Senja: Kematian dan Waktu dalam Kehidupan

  • 01 Okt 2026 13:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kematian dan waktu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Keduanya menjadi pengingat agar setiap orang tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki. Hal tersebut disampaikan TGH. Saiful Bahrain, Lc., MA., dalam program Renungan Senja RRI Mataram, Kamis 1 Oktober 2026.

Ia menyampaikan kisah yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali melalui sejumlah pertanyaan kepada para muridnya. Pertanyaan pertama, apa yang paling dekat dengan manusia di dunia ini?

Para murid menjawab orang tua, teman, sahabat, tetangga dan kerabat. Namun, jawaban yang disebut dalam kisah tersebut adalah kematian.

Kematian menjadi sesuatu yang paling dekat karena setiap manusia pasti mengalaminya, sementara waktunya tidak pernah diketahui.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

Karena itu, manusia diingatkan untuk tidak menganggap kematian masih jauh dan senantiasa mempersiapkan diri dengan amal kebaikan.

Pertanyaan kedua, apa yang paling jauh di dunia ini?

Jawabannya bukan negeri yang jauh, bulan maupun matahari, tetapi masa lalu. Sebab, waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.

Rasulullah SAW bersabda, "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Harta yang hilang masih dapat dicari kembali, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."

Melalui renungan tersebut, TGH. Saiful Bahrain mengajak masyarakat untuk menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, memperbaiki diri pada hari ini, serta mempersiapkan kehidupan yang akan datang.

Sebab, manusia tidak mengetahui kapan kematian akan datang, sementara waktu yang telah berlalu tidak mungkin terulang kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....