Apa yang Terjadi jika Gempa Tak Pernah Ada?
- 21 Sep 2026 14:26 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Gempa bumi biasanya identik dengan bencana. Getarannya dapat merusak bangunan, memicu longsor, hingga menyebabkan tsunami. Namun, pernahkah terpikir apa yang terjadi jika gempa bumi sama sekali tidak pernah terjadi di Bumi?
Pertanyaan ini ternyata berkaitan erat dengan cara kerja planet kita. Menurut USGS (United States Geological Survey), gempa umumnya terjadi ketika lempeng tektonik bergerak dan tekanan yang menumpuk pada patahan akhirnya dilepaskan. Artinya, keberadaan gempa merupakan salah satu tanda bahwa Bumi masih mengalami aktivitas geologi.
Jika gempa benar-benar berhenti total, kemungkinan yang perlu dibayangkan bukan sekadar Bumi menjadi lebih tenang. Skenario tersebut dapat berarti aktivitas tektonik telah berhenti atau melemah secara ekstrem. Padahal, pergerakan lempeng memiliki peran besar dalam membentuk pegunungan, dasar samudra, gunung api, hingga terus memperbarui permukaan Bumi.
Dalam situs resmi National Geographic menjelaskan bahwa jika tektonik lempeng berhenti, pembentukan pegunungan juga akan terhenti. Pegunungan yang sudah ada kemudian perlahan terkikis oleh angin, hujan, dan gelombang. Dalam jangka geologis yang sangat panjang, permukaan Bumi akan menjadi jauh lebih datar. Aktivitas vulkanik juga akan berkurang drastis, meskipun beberapa aktivitas dari hotspot masih mungkin bertahan.
Dampaknya tidak berhenti pada bentuk permukaan Bumi. Lempeng Tektonik juga berkaitan dengan siklus karbon, yaitu perpindahan karbon antara atmosfer, laut, batuan, dan bagian dalam Bumi. Siklus ini berperan dalam menjaga kondisi iklim dalam jangka panjang. USGS menyebut karbon sebagai unsur penting bagi kehidupan sekaligus bagian dari proses yang mengatur iklim global.
Dalam skenario ketika aktivitas tektonik benar-benar berhenti, pasokan karbon dari aktivitas geologi seperti vulkanisme akan berkurang, sementara proses penghilangan karbon dari atmosfer tetap dapat berlangsung. Akibatnya, dalam rentang waktu geologis yang sangat panjang, kadar karbon dioksida atmosfer dapat menurun dan Bumi berpotensi mengalami pendinginan yang ekstrem. National Geographic menggambarkan berakhirnya tektonik sebagai jalan menuju planet yang semakin dingin dan secara geologis tidak aktif.
Jadi, gempa bukan berarti “dibutuhkan” agar manusia dapat hidup, dan bukan pula pengatur suhu Bumi secara langsung. Namun, gempa merupakan salah satu gejala dari sistem tektonik yang membuat Bumi tetap dinamis. Ironisnya, fenomena yang ditakuti manusia tersebut justru menjadi salah satu tanda bahwa planet tempat kita tinggal masih bergerak dan mengalami proses geologi. Kalau gempa benar-benar tidak pernah terjadi, menurut kamu seperti apa kondisi Bumi di masa depan? (RRI/Aldi W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....