Jejak Lingkungan di Balik Perkembangan AI
- 21 Sep 2026 14:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kecerdasan buatan atau AI kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menghasilkan gambar, hingga membantu pekerjaan, semuanya dapat dilakukan dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat infrastruktur fisik yang membutuhkan listrik, air, lahan, hingga berbagai bahan baku.
Menurut laporan United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH), AI bukan sekadar teknologi digital semata. Perkembangannya bergantung pada pusat data, chip, sistem pendingin, jaringan listrik, sumber air, serta rantai pasok mineral. Karena itu, dampak lingkungannya tidak cukup dilihat hanya dari emisi karbon.
Jejak Karbon dari Energi
Setiap aktivitas AI membutuhkan komputasi yang dijalankan oleh server. Semakin besar penggunaan teknologi ini, semakin besar pula kebutuhan listriknya. Dampaknya terhadap iklim kemudian bergantung pada sumber energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik tersebut.
UNU-INWEH memperkirakan konsumsi listrik pusat data global dapat mencapai 945 TWh pada 2030. Angka tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan AI dan layanan digital dapat meningkatkan kebutuhan energi dalam skala yang sangat besar.
Bukan Hanya Soal Listrik
Pusat data juga membutuhkan air, terutama untuk membantu sistem pendinginan. Namun, jejak air tidak hanya berasal dari fasilitas tersebut. Proses pembangkitan listrik juga dapat membutuhkan sumber daya air.
UNU-INWEH memperkirakan jejak air yang berkaitan dengan konsumsi listrik pusat data pada 2030 dapat mencapai 9,3 triliun liter. Sementara itu, kebutuhan infrastrukturnya juga berkaitan dengan penggunaan lahan yang diperkirakan mencapai lebih dari 14.500 kilometer persegi.
Penggunaan AI Ikut Menentukan
Jejak lingkungan AI tidak hanya ditentukan saat sebuah model dilatih. Setelah digunakan, model terus membutuhkan energi untuk menghasilkan respons atau disebut inference. Menurut laporan UNU-INWEH, aktivitas ini diperkirakan menyumbang 80–90 persen dari total penggunaan energi AI.
Jenis pekerjaan juga berpengaruh. Pembuatan gambar dan video AI membutuhkan komputasi lebih besar dibandingkan tugas teks sederhana. Artinya, pilihan model, panjang output, resolusi, dan frekuensi penggunaan ikut menentukan besarnya sumber daya yang diperlukan.
UNRIC (United Nations Regional Information Centre) yang mengutip laporan UNU-INWEH menekankan bahwa dampak tersebut perlu dilihat secara bersamaan karena pengurangan emisi karbon tidak selalu berarti penggunaan air dan lahan ikut turun.
Perkembangan AI memang menawarkan banyak kemudahan, tetapi teknologi ini juga memiliki jejak lingkungan yang tidak selalu terlihat oleh penggunanya. Di balik setiap prosesnya ada pusat data, listrik, sistem pendingin, air, lahan, hingga perangkat keras yang ikut menopang pertumbuhan AI.
Karena itu, memahami dampak lingkungan dari AI menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan teknologi secara lebih utuh. Bukan berarti penggunaan AI harus dihentikan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih efisien serta bertanggung jawab. Seberapa besar jejak lingkungan dari AI yang kamu gunakan setiap hari? (RRI/Aldi W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....