Kenapa Data Masyarakat Dibagi Menjadi 10 Desil?

  • 19 Sep 2026 15:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Istilah desil mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Namun, istilah ini semakin sering muncul ketika membahas data sosial dan ekonomi. Lalu, kenapa masyarakat dibagi menjadi desil 1 sampai 10? Apakah angka tersebut menunjukkan jumlah penghasilan atau tingkat kekayaan seseorang?

Berdasarkan penjelasan Badan Pusat Statistik (BPS), desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya. Keluarga dibagi menjadi 10 kelompok, mulai dari desil 1 hingga desil 10. Desil 1 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Pembagian tersebut bukan sekadar memberikan peringkat kepada masyarakat. Menurut BPS, Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi rujukan bersama yang dapat digunakan untuk mendukung perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program pemerintah. Dengan adanya data yang lebih terintegrasi, kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat dipetakan secara lebih terstruktur.

Lantas, apakah desil ditentukan hanya berdasarkan penghasilan? Berdasarkan penjelasan BPS, penentuan desil tidak menggunakan satu indikator saja. Berbagai karakteristik sosial ekonomi diperhitungkan secara bersama-sama untuk melihat posisi relatif suatu keluarga.

Desil tidak bisa langsung dianggap sebagai ukuran kekayaan seseorang. Keluarga yang berada dalam desil yang sama belum tentu memiliki penghasilan, pengeluaran, kondisi tempat tinggal, atau keadaan sosial ekonomi yang persis sama. Desil lebih tepat dipahami sebagai gambaran posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya.

Dalam konteks data kependudukan, Dilansir Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjelaskan bahwa pemutakhiran data kesejahteraan telah terintegrasi dengan data kependudukan melalui NIK. Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperbarui data dan meningkatkan ketepatan sasaran program sosial.

Karena kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat berubah, data yang digunakan juga perlu terus diperbarui. Berdasarkan informasi BPS, masyarakat yang merasa data sosial ekonominya belum sesuai dengan kondisi terkini dapat melakukan pemutakhiran melalui kanal resmi yang tersedia, seperti Cek Bansos, aplikasi Cek Bansos, SIKS-NG melalui operator desa atau kelurahan, maupun kanal Cek DTSEN.

Pemutakhiran data tidak berarti posisi desil akan langsung berubah. Menurut BPS, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama. Karena itu, perubahan pada satu kondisi saja belum tentu membuat posisi desil seseorang berubah.

Pembagian masyarakat ke dalam 10 desil bukan sekadar pemberian angka. Sistem ini membantu pemerintah memahami kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih terstruktur. Data yang akurat dan mutakhir juga penting agar gambaran kondisi masyarakat tetap sesuai dengan keadaan sebenarnya. Apakah desil kalian sudah termutakhirkan dan sesuai dengan kondisi saat ini? (RRI/Aldi W)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....