Renungan Senja: Hidup Adalah Perjuangan dan Doa

  • 10 Agt 2026 13:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Hakikat kehidupan yang sedang dijalani manusia tidak lepas dari dua kata kunci, yakni perjuangan dan doa. Kehidupan dunia bukanlah tempat untuk beristirahat, melainkan tempat untuk menghadapi ujian sekaligus menanam amal kebaikan sebagai bekal kehidupan akhirat.

Hal tersebut disampaikan Syamsul Hakim, S.Sos.I., M.Sy., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Lombok Tengah, dalam program Renungan Senja RRI Mataram, Senin 10 Agustus 2026.

Menurutnya, tidak ada manusia yang menjalani kehidupan tanpa perjuangan. Setiap orang memiliki bentuk perjuangannya masing-masing. Ada yang berjuang menahan sakit di atas pembaringan, berjuang di balik senyuman, hingga mereka yang terus berjuang demi keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

“Tidak ada yang hidup tanpa perjuangan. Ada yang berjuang menahan sakit di atas pembaringan, berjuang di balik senyuman, dan ada pula yang berjuang demi keluarga,” ujar Syamsul Hakim.

Ia menjelaskan, perjuangan dalam kehidupan harus senantiasa disertai dengan iman. Sebab, perjuangan tanpa iman dapat berubah menjadi perjalanan yang melelahkan tanpa arah.

Dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, kesabaran menjadi salah satu kekuatan utama seorang mukmin. Sabar, menurutnya, bukan berarti bersikap pasif dan hanya menunggu keadaan berubah, tetapi merupakan daya tahan jiwa untuk tetap melangkah dan berbuat baik meskipun ujian datang bertubi-tubi.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut, menurut Syamsul Hakim, menunjukkan bahwa Allah SWT menyandingkan kesabaran dengan salat sebagai jalan untuk memperoleh pertolongan-Nya.

“Allah menyandingkan sabar dengan salat dan doa. Mengapa demikian? Karena Allah tahu bahwa fisik dan dada manusia ada batasnya. Ketika beban seolah menghimpit dada, ketika ikhtiar sudah dilakukan, di sinilah letak doa,” jelasnya.

Ia menambahkan, perjuangan dan doa merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perjuangan tanpa doa dapat melahirkan kesombongan, sementara doa tanpa perjuangan hanya menjadi angan-angan.

“Doa adalah jeritan hati yang memecah keheningan malam agar Allah meridai setiap keringat yang jatuh,” ungkapnya.

Syamsul Hakim juga mengingatkan agar setiap perjuangan diiringi dengan sabar dan syukur. Ketika seseorang mampu bersabar dalam menghadapi kesulitan dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat, maka berbagai keadaan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidaklah dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”

(HR. Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang mukmin memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi kehidupan. Ketika memperoleh kebahagiaan, ia bersyukur. Ketika mendapatkan ujian dan kesulitan, ia bersabar. Keduanya menjadi kebaikan apabila dijalani dengan keimanan.

“Ketika perjuangan berpadu dengan sabar dan syukur, inilah yang membuat kita bisa terbang tinggi,” kata Syamsul Hakim.

Melalui Renungan Senja, ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang ujian sebagai akhir dari perjalanan. Setiap kesulitan merupakan bagian dari proses kehidupan yang dapat menjadi sarana untuk memperkuat iman, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab, kehidupan dunia bukanlah tempat untuk berhenti dan beristirahat, melainkan ladang untuk berjuang, berdoa, bersabar, bersyukur, dan menanam sebanyak-banyaknya kebaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....