Nyoman Widhiarsana: Kebhinekaan Warisan Tuhan yang Menjadi Kekuatan Bangsa
- 29 Jul 2026 11:30 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah besar yang harus dijaga bersama. Di tengah berbagai perbedaan tersebut, masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan secara damai dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Pengurus Harian PDHI NTB, Nyoman Widhiarsana, ST., CH., CHt., CI., menyebutkan bahwa kebhinekaan merupakan fondasi utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pendiri bangsa telah meletakkan nilai-nilai persatuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang hingga kini menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
“Para founding father mampu menggali nilai-nilai kehidupan bangsa yang luar biasa di tengah perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka menegaskan bahwa kita berbeda-beda, tetapi tetap satu,” ujarnya, saat menjadi narasumber dalam Dialog Beranda Astacita Moderasi Beragama bertema “Merajut Kebhinekaan, Menebar Keharmonisan di Tengah Perbedaan” yang disiarkan Pro 1 RRI Mataram, Selasa 28 Juli 2026.
Ia menegaskan, tanpa kebhinekaan tidak akan lahir Indonesia seperti yang dikenal saat ini. Karena itu, keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah belah, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat demi menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
“Kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan dan warisan Tuhan yang harus dijadikan pedoman hidup. Ketika masyarakat hidup berdampingan dengan saling menghormati, maka keberagaman akan menjadi kekuatan bersama,” katanya.
Dari sudut pandang ajaran Hindu, Nyoman menjelaskan bahwa seluruh ajaran agama pada hakikatnya mengajarkan kedamaian, keharmonisan, dan kerukunan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan untuk mewujudkan kehidupan yang aman, nyaman, dan sejahtera.
Salah satu ajaran penting dalam Hindu adalah Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti seluruh umat manusia adalah satu keluarga. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap manusia adalah saudara yang harus saling menghargai dan memperlakukan sesama dengan penuh kasih.
“Ketika prinsip persaudaraan ini diterapkan dalam pikiran, ucapan, dan perilaku, maka kehidupan yang rukun dan harmonis akan terwujud,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan implementasi ajaran tersebut melalui konsep Tri Kaya Parisudha, yaitu tiga perilaku yang harus disucikan. Pertama, Manacika atau berpikir yang baik, yakni menumbuhkan pikiran positif yang mengarah pada kebaikan dan keharmonisan. Kedua, Wacika atau berkata-kata yang baik, karena ucapan memiliki pengaruh besar dalam membangun maupun merusak hubungan antarmanusia.
“Ucapan yang santun akan menghadirkan kenyamanan dalam setiap interaksi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital,” ungkapnya.
Ketiga, Kayika atau berperilaku yang baik. Menurut Nyoman, perilaku tidak hanya diwujudkan melalui tindakan fisik, tetapi juga melalui ekspresi dan sikap yang mencerminkan penghormatan kepada orang lain.
Melalui penerapan Tri Kaya Parisudha, masyarakat diajak untuk membangun keharmonisan dimulai dari diri sendiri, sehingga nilai-nilai moderasi beragama dapat tumbuh dan menguat dalam kehidupan bermasyarakat.
Dialog tersebut menjadi pengingat bahwa merawat kebhinekaan bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh agama, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Dengan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dan mengedepankan sikap saling menghormati, Indonesia akan tetap kokoh sebagai bangsa yang majemuk namun bersatu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....