Suara dari Ujung NTB: LPG Mahal, Pendidikan Timpang, dan Harapan Disabilitas
- 14 Apr 2026 10:02 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Suasana berbeda terasa di studio Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram, Selasa 14 April 2026 pagi. Program “Hallo RRI” yang mengudara pukul 09.00–10.00 Wita menjelma menjadi ruang curhat publik, tempat warga dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Barat menyampaikan keresahan mereka di tengah tekanan hidup yang kian berat.
Dipandu oleh Apriana dan Putri Mentari Siahaan, siaran berlangsung hangat namun sarat persoalan. Satu per satu warga menyampaikan keluhan, mulai dari kebutuhan energi, akses pendidikan, hingga perhatian terhadap penyandang disabilitas.
Keluhan pertama datang dari Amaq Har, warga Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Ia menyoroti melonjaknya harga LPG bersubsidi yang dinilai jauh dari ketentuan.
“Ini sangat memberatkan,” ujarnya lirih. Ia mengungkapkan, harga LPG yang seharusnya berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per tabung, kini mencapai Rp27.000.
Keluhan serupa disampaikan Torik, juga dari Lombok Tengah. Ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, kelangkaan dan kenaikan harga LPG bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat kecil.
Dari Lombok Utara, Rahim turut menyuarakan hal yang sama. Ia meminta pemerintah turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi LPG berjalan sesuai aturan.
Sementara itu, Ibu Aisyah dari Lombok Barat mendorong pemerintah daerah melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna mengetahui penyebab kelangkaan LPG di tingkat masyarakat.
“Supaya tahu apa sebenarnya yang terjadi di lapangan,” katanya.

Tak hanya isu energi, siaran pagi itu juga menyoroti ketimpangan di sektor pendidikan. Kenzo, warga Lombok Timur, mengungkapkan bahwa fasilitas pendidikan di daerahnya masih jauh dari merata.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi ironi di tengah upaya pemerataan pendidikan yang terus digaungkan secara nasional.
Selain itu, perhatian terhadap penyandang disabilitas juga menjadi sorotan. Saftanus dan Safrudin, warga Lombok Tengah, mengungkapkan minimnya bantuan bagi kelompok tuna netra.
“Perlu perhatian lebih,” ujar mereka, menggambarkan kondisi penyandang disabilitas yang masih kerap terabaikan.
| Baca juga: Paralegal Lombok Utara Ikuti Coaching Clinic |
Selama satu jam siaran, berbagai suara masyarakat mengalir jujur dan penuh harap. Namun, di tengah derasnya keluhan, tidak ada tanggapan langsung dari pihak pemerintah daerah dalam dialog tersebut.
Program “Hallo RRI” pagi itu pun menjadi cermin kondisi masyarakat di Nusa Tenggara Barat, yang masih bergulat dengan persoalan mendasar seperti harga kebutuhan pokok, akses pendidikan, dan keadilan sosial bagi kelompok rentan.
Di akhir siaran, tersisa sebuah pertanyaan besar: apakah suara-suara ini akan benar-benar didengar, atau kembali menguap tanpa tindak lanjut. (RRI/Joe)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....