Halal Bihalal Momentum Membersihkan Hati dan Harmoni

  • 31 Mar 2026 13:27 WIB
  •  Mataram

RRI.co.id, Mataram - Halal bihalal tidak sekadar menjadi tradisi usai Idulfitri, tetapi juga dimaknai sebagai momentum membersihkan hati dari berbagai emosi negatif seperti marah, kecewa, dan dendam. Hal itu disampaikan TGH Saiful Bahrain, Lc., M.A. dalam acara Renungan Senja di Pro 1 RRI Mataram, Selasa sore 31 Maret 2026.

Menurutnya, secara generik kata halal berarti melepaskan. Istilah itu juga seakar dengan kata tahallul, yakni melepaskan diri dari ikatan keharaman setelah menunaikan rukun dan wajib haji.

“Halal bihalal bisa dimaknai sebagai momentum melepaskan diri dari sampah emosi yang kerap bersarang di hati. Melepaskan emosi negatif seperti kecewa, marah, dan dendam dengan cara saling memaafkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan orang lain yang pernah menzalimi. Namun, memaafkan merupakan ikhtiar untuk membebaskan hati dari beban emosi yang selama ini tersimpan.

“Anda tidak bisa memaafkan seraya menyimpan dendam,” jelasnya.

Lebih lanjut, TGH Saiful menjelaskan, ketika seseorang mampu memaafkan dengan tulus, maka ia akan sampai pada tingkat kebeningan hati yang dalam ajaran agama disebut sebagai fitrah.

Menurutnya, makna itu juga selaras dengan ucapan minal ‘aidin wal faizin, yang tidak hanya dimaknai sebagai kembali dan menang, tetapi juga kembali pada kesucian diri dan memperoleh kemenangan dari sisi Allah.

Selain itu, ia menilai halal bihalal juga membawa pesan besar tentang pentingnya harmonisasi, terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ia menyebut halal bihalal sebagai budaya khas Indonesia yang tumbuh di tengah masyarakat yang majemuk, heterogen, dan beragam, namun tetap menjunjung tinggi persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Prasyarat untuk bisa menerima keragaman itu adalah keluasan hati. Hati yang luas akan mudah memahami dan menerima perbedaan,” katanya.

Sebaliknya, hati yang sempit, lanjutnya, akan sulit menerima perbedaan dan cenderung merasa paling benar, bahkan memandang orang lain yang berbeda sebagai pihak luar yang patut dicurigai.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, keluasan hati juga dinilai penting untuk membangun hubungan yang sehat dengan sesama. Dengan hati yang lapang, seseorang dapat berbuat baik tanpa berharap balasan, bekerja tanpa haus pujian, serta berdamai tanpa dibayangi kekecewaan.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut juga sangat relevan dalam dunia kerja. Bekerja, menurutnya, termasuk bagian dari ibadah jika diniatkan sebagai bentuk pelayanan kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama dan upaya menjaga keharmonisan.

“Dalam bekerja, jika kita melayani dengan tulus, menjaga keharmonisan, bertanggung jawab, produktif, inovatif, dan solutif, maka itu juga bagian dari ibadah,” jelasnya.

TGH Saiful menutup renungan dengan mengajak masyarakat menjadikan halal bihalal bukan hanya sebagai tradisi seremonial, tetapi juga sebagai jalan untuk membangun hati yang lebih lapang, kehidupan yang lebih harmonis, dan keberkahan dalam setiap aktivitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....