Pemporv NTB Gelar Lomba Menu Kreatif MBG

  • 22 Agt 2026 13:45 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemprov NTB menggelar lomba menu kreatif MBG yang diikuti 25 SPPG untuk menghasilkan makanan bergizi, aman, variatif, dan disukai anak-anak.
  • Hasil lomba diharapkan bisa diterapkan dalam menu MBG sehari-hari untuk membantu mencegah stunting dan kekurangan gizi.

‎RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar lomba masak menu kreatif Makan Bergizi Gratis (MBG). Lomba ini sebagai bagian dari puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di NTB.

‎Sebanyak 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Pulau Lombok ambil bagian dalam lomba tersebut. Mereka ditantang menyajikan menu MBG yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menarik dan disukai anak-anak.

‎Sekretaris Daerah NTB Abul Chair mengatakan lomba itu bukan semata-mata untuk mencari SPPG dengan kemampuan memasak terbaik. Menurut dia, persoalan yang hendak dijawab adalah bagaimana makanan bergizi benar-benar dikonsumsi oleh anak.

Ketua TP PKK NTB, Sinta M. Iqbal (kiri) bersama Sekda NTB, Abul Chair (tengah) didampingi Kasatgas MBG NTB, Fathul Gani (kanan) saat menilai menu MBG. (Foto: RRI/Muh.Halwi).

‎“Bukan mencari siapa yang lebih pintar, tetapi siapa yang paling kreatif menampilkan makanan yang bisa disukai anak-anak,” kata Abul Chair seusai membuka lomba, Sabtu 22 Agustus 2026.

‎Dia mengatakan makanan yang secara kandungan gizi sudah memenuhi standar belum tentu habis dimakan siswa. Anak-anak dapat merasa bosan jika menu yang disajikan tidak bervariasi.

‎Karena itu, kreativitas menjadi salah satu kunci dalam penyediaan menu MBG. Abul menilai hasil lomba dapat menjadi ruang belajar bagi seluruh SPPG untuk saling bertukar ide dan menemukan menu yang bisa diterapkan di tempat lain.

‎“Ini bukan sekadar lomba, tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk saling melihat ide-ide baru yang nantinya bisa diterapkan dan direplikasi,” ujarnya.

‎Selain kreativitas, kandungan gizi tetap menjadi pertimbangan utama. Menu yang dilombakan harus memperhatikan kebutuhan serat, protein dan unsur gizi lainnya.

‎Aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian. Menurut Abul, bahan makanan yang mudah rusak harus dipersiapkan dan didistribusikan dengan memperhitungkan waktu tempuh hingga makanan diterima siswa.

‎“Bukan cuma bergizi, bukan cuma enak, tetapi tentu aman,” kata dia.

‎Abul mengatakan hasil lomba diharapkan tidak berhenti pada pemberian penghargaan kepada para peserta. Menu-menu kreatif yang dinilai baik akan menjadi bahan pengayaan untuk diterapkan dalam penyediaan MBG sehari-hari.

‎Dia mencontohkan, satu SPPG bisa mengadopsi menu dari SPPG lain apabila dinilai menarik, bergizi, aman, dan sesuai dengan anggaran penyediaan makanan.

‎“Cukup dengan uang Rp10 ribu seperti ini, ternyata bisa mendapatkan menu yang seperti ini,” ujarnya.

‎Dalam penerapannya, variasi menu juga perlu diatur melalui siklus menu. Hal itu penting agar siswa tidak terus-menerus menerima jenis makanan yang sama.

‎“Jangan sampai begitu dibuka, anak-anak bilang, ‘lagi, lagi’. Jadi mesti dibuat bervariasi,” kata Abul.

‎Para juri dalam lomba tersebut melibatkan ahli gizi dan bidang tata boga, termasuk unsur Cheef NTB. Abul berharap program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan makan anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas generasi muda.

‎Menurut dia, semangat kemerdekaan saat ini tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai perjuangan untuk membebaskan anak-anak dari stunting dan kekurangan gizi.

‎“Yang kita perjuangkan saat ini tentu merdeka dari stunting, merdeka dari kekurangan gizi, dan tentu untuk anak-anak yang sehat dan lebih kuat,” kata Abul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....