MBG Mulai Berdampak pada Penanganan Stunting di NTB
- 22 Agt 2026 13:44 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Program MBG dinilai mulai memberi dampak positif bagi pemenuhan gizi anak, terutama di daerah 3T, meski data penurunan stunting secara khusus belum dipublikasikan.
- Pemprov NTB mendorong pemerataan penerima MBG, peningkatan kualitas menu, serta pengawasan agar makanan benar-benar dikonsumsi anak.
RRI.CO.ID, Mataram - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mulai memberi dampak terhadap upaya penanganan stunting di Nusa Tenggara Barat. Ketua Tim Penggerak PKK NTB Sinta M. Iqbal mengatakan manfaat program tersebut paling terasa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), meski kontribusi MBG terhadap penurunan angka stunting belum dapat dihitung secara spesifik.
Berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di NTB hingga triwulan III 2026 berada di angka 12,50 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan capaian sebelumnya. Pada triwulan I 2026, prevalensi stunting NTB tercatat 12,88 persen.

Sinta mengatakan pemerintah belum dapat memastikan berapa besar penurunan stunting yang secara langsung disebabkan oleh pelaksanaan MBG.
“Secara angka, memang kami belum punya angkanya. Tapi dari realnya, kita turun ke daerah, terutama di desa-desa yang 3T, mereka sangat mengapresiasi dan sangat menunggu betul adanya MBG ini,” kata Sinta usai menjadi juri Lomba Menu Kreatif MBG di Kantor Gubernur NTB, Sabtu 22 Agustus 2026.
Menurut dia, MBG memiliki arti penting bagi anak-anak di wilayah terpencil yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap makanan bergizi. Bahkan, konsumsi lauk seperti ayam masih menjadi sesuatu yang langka bagi sebagian keluarga.
Sinta mencontohkan pengalamannya ketika bertemu dengan seorang anak di wilayah 3T yang membawa satu potong ayam dari menu MBG. Anak tersebut, kata dia, berencana membagi lauk itu untuk ibunya.
“Buat mereka sendiri mungkin makan ayam satu potong itu hal yang cukup langka, terutama teman-teman di 3T,” ujarnya.
Penurunan prevalensi stunting NTB menjadi 12,50 persen memperkuat optimisme pemerintah bahwa intervensi pemenuhan gizi dapat terus diperluas. Namun, Sinta menilai MBG tidak bisa bekerja sendirian.
Keberhasilan program tersebut tetap membutuhkan keterlibatan orang tua, guru, pemerintah daerah, serta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sinta meminta orang tua dan guru memastikan makanan yang diberikan melalui MBG benar-benar dikonsumsi anak hingga habis. Menurut dia, makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak dimakan.
“Kadang-kadang mereka sudah menyiapkan, tapi makannya tidak habis karena tidak suka. Kita butuh bantuan dari teman-teman guru dan para orang tua untuk bisa mendampingi anak-anaknya,” katanya.
Ia juga meminta mitra MBG memperbaiki kualitas dan variasi makanan. Menu, kata Sinta, tidak boleh hanya memenuhi gramasi dan anggaran, tetapi juga harus memperhatikan kandungan gizi serta selera anak.
| Baca juga: Menu SPPG Tak Pernah Dilaporkan ke Satgas |
Dalam lomba menu kreatif MBG yang digelar di NTB, Sinta menyebut sekitar 95 persen menu yang ditampilkan telah memenuhi standar yang diharapkan, termasuk dari sisi gramasi dan anggaran. “Sekitar 95 persen sudah sesuai dengan yang kita harapkan. Ada beberapa memang yang masih diberikan masukan,” ujarnya.
Di tengah penurunan angka stunting, distribusi MBG di NTB masih belum sepenuhnya merata. Sinta mengakui masih banyak anak yang belum mendapatkan program tersebut.
Persoalan akses menjadi salah satu hambatan, terutama bagi wilayah yang berada jauh dari pusat layanan. Salah satunya wilayah Mekar Sari yang masih menghadapi kendala transportasi.
“Kita sedang usahakan. Sudah kami sampaikan ke SPPG terkait supaya mungkin dicari jalan keluarnya supaya mereka mau menjangkau yang benar-benar di ujung-ujung,” kata Sinta.
Pemerintah daerah juga dilibatkan untuk mencari solusi atas persoalan distribusi tersebut. Sinta mengatakan kendala transportasi telah disampaikan kepada pihak terkait agar layanan MBG dapat menjangkau anak-anak di wilayah terpencil.
Sinta juga mengakui pelaksanaan MBG di lapangan belum sepenuhnya ideal. Dalam sejumlah kunjungannya ke desa, ia menemukan makanan yang dinilai tidak sesuai standar.
Ia meminta persoalan tersebut tidak dijadikan alasan untuk menilai seluruh program MBG buruk. Menurut Sinta, masih banyak SPPG yang menyediakan makanan dengan kualitas dan variasi yang baik.
Namun, ia mengakui masih ada penyedia yang perlu mendapat teguran dan pengawasan lebih ketat. “Memang masih ada yang nakal-nakal ini yang perlu kita pantau, kita dampingi, kita tegur kalau perlu,” ujarnya.
Sinta mencontohkan adanya menu dengan potongan ayam yang terlalu kecil dan daging yang keras sehingga sulit dimakan anak.
Karena itu, pengawasan terhadap pelaksanaan MBG menjadi penting agar program tersebut tidak berhenti pada pemenuhan distribusi makanan. Tujuan akhirnya adalah memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan berkelanjutan.
Data pemerintah menunjukkan prevalensi stunting NTB berdasarkan e-PPGBM terus bergerak turun. Data e-PPGBM mencatat angka 13,39 persen pada Desember 2025, kemudian turun menjadi 12,88 persen pada triwulan I 2026, dan kembali turun menjadi 12,50 persen hingga triwulan III 2026.
Pemerintah NTB menargetkan penurunan tersebut terus berlanjut melalui intervensi yang lebih tepat sasaran. Selain pemenuhan gizi, penanganan stunting juga membutuhkan perbaikan pola asuh, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan munculnya kasus baru.
Dengan kondisi itu, MBG diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat pemenuhan gizi anak, terutama di wilayah 3T.
Sinta meminta seluruh pihak tidak hanya memastikan makanan sampai ke tangan anak, tetapi juga memastikan makanan tersebut berkualitas, bergizi, beragam, dan benar-benar dikonsumsi. “Jangan menggeneralisir program ini menjadi program yang tidak baik hanya karena ulasan satu-dua orang,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....