Kali Muturi, Oase Musim Kemarau yang Viral di Teluk Bintuni
- 03 Okt 2026 19:03 WIB
- Manokwari
Musim kemarau menghadirkan wajah berbeda bagi Kali Muturi di Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni. Aliran sungai yang biasanya berwarna keruh berubah menjadi jernih, menghadirkan panorama alami yang menyejukkan mata dan menjadikannya salah satu destinasi wisata favorit warga setempat.
Terletak tepat di bawah Jembatan Muturi yang menghubungkan Kota Bintuni dengan kawasan SP 2 dan SP 3, lokasi ini kini ramai dikunjungi masyarakat, terutama pada akhir pekan. Popularitasnya semakin meningkat setelah berbagai foto dan video keindahan sungai tersebut beredar luas di media sosial.
Air yang jernih dan sejuk menjadi daya tarik utama. Di tepian sungai, anak-anak bermain air dengan riang, sementara orang dewasa menikmati suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Sebagian warga sekitar juga masih memanfaatkan sungai ini untuk mencuci pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Salah seorang pengunjung, Gadis, mengaku mengetahui keberadaan Kali Muturi setelah melihat unggahan yang viral di media sosial. Ia sengaja datang bersama keluarga untuk menikmati suasana alam yang berbeda dari biasanya.
“Tempatnya sejuk, airnya segar dan lingkungannya bersih. Ini cocok untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu. Kami berharap semua pengunjung ikut menjaga kebersihan agar tempat ini tetap menjadi destinasi wisata yang nyaman bagi warga Teluk Bintuni,” ujarnya.
Menurut Gadis, fenomena air yang menjadi jernih hanya terjadi saat musim kemarau. Karena itu, banyak warga memanfaatkan momen tersebut untuk berwisata sambil menikmati kesegaran sungai alami yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Di balik ramainya kunjungan wisatawan, terdapat peran masyarakat setempat yang secara swadaya mengelola kawasan tersebut. Kletus Gabriel dan rekan-rekannya mulai membuka lokasi wisata Kali Muturi sekitar tiga pekan lalu dengan tujuan menjaga kebersihan sekaligus memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.
Setiap hari, terutama mulai Kamis hingga Minggu, mereka berjaga dan melakukan pengelolaan sederhana. Pengunjung dikenakan tarif parkir Rp10 ribu untuk sepeda motor dan Rp20 ribu untuk mobil.
Dana yang terkumpul digunakan untuk menjaga kebersihan kawasan, menyediakan kantong sampah, hingga membantu kebutuhan masyarakat sekitar, termasuk pengadaan selang untuk menyalurkan air ke rumah-rumah warga.
“Uang yang masuk kami gunakan untuk menjaga kebersihan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Kami ingin tempat ini tetap bersih dan nyaman untuk semua orang,” kata Kletus.
Selama dua pekan terakhir, pengelola mencatat dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp4 juta. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan wisata ini sangat bergantung pada kesadaran pengunjung untuk menjaga lingkungan.
Kletus berharap setiap wisatawan membawa pulang sampahnya atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan. Ia juga mengingatkan pengunjung agar memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Di tengah cuaca kemarau yang menyelimuti Teluk Bintuni, Kali Muturi hadir sebagai oase alami yang menawarkan kesegaran dan ketenangan. Kejernihan air, suasana yang asri, serta semangat gotong royong masyarakat menjadikan tempat ini bukan sekadar lokasi rekreasi, tetapi juga contoh bagaimana destinasi wisata dapat tumbuh dari kepedulian warga terhadap lingkungan mereka sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....