Hari Kesaktian Pancasila, Generasi Muda Diminta Jadi Pelopor Persatuan

  • 02 Okt 2026 03:19 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk memperkuat penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat, khususnya di tengah keberagaman Papua Barat. Kabid Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Kesbangpol Papua Barat, Theo D. Kawer, mengatakan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum mengenang ketangguhan Pancasila sebagai ideologi negara.

Nilai tersebut juga penting untuk memperkuat persatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah keberagaman. Menurut Theo, pengamalan Pancasila harus terlihat melalui pelayanan masyarakat yang cepat, transparan, dan berpihak kepada kelompok rentan. Ia menyebut provokasi, berita bohong, politisasi identitas, serta perbedaan suku dan agama yang dimanfaatkan pihak tertentu menjadi tantangan dalam menjaga toleransi.

“Ancaman provokasi, isu atau berita bohong serta provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab mudah memicu gesekan sosial,” ujar Theo.

Kepala Bidang Ideologi Wawasan Kebangsaandan Karakter Bangsa Kesbangpol Papua Barat., Theo D. Kawer, S.IP

Ia mengatakan pemerintah daerah menjalankan pembinaan ideologi melalui sosialisasi pendidikan karakter, pembinaan wawasan kebangsaan bagi pelajar, mahasiswa dan pemuda. Pemerintah juga melibatkan komunitas kepemudaan untuk mengampanyekan toleransi serta menyebarkan konten edukatif tentang Pancasila melalui media sosial.

Ketua Pemuda Panca Marga LVRI Papua Barat, Harri Ramandey, mengatakan nilai Pancasila memiliki keterkaitan dengan kehidupan adat dan budaya masyarakat Papua. Ia mencontohkan filosofi satu tungku tiga batu yang menggambarkan kehidupan bersama di tengah perbedaan suku dan agama.

“Pancasila bukan karena paksaan. Bagi orang asli Papua, konsep itu sudah hidup, mulai dari Ketuhanan, kemanusiaan, hingga persatuan dalam filosofi satu tungku tiga batu,” kata Harri.

Harri menilai pengamalan Pancasila harus dibawa dari ruang formal ke kehidupan nyata, mulai dari kampung hingga pasar. Menurutnya, prinsip musyawarah, transparansi, pelayanan publik, gotong royong, dan keadilan sosial merupakan bentuk konkret penerapan nilai Pancasila.

Sementara itu, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Caritas Indonesia, Rani Esterlina Bonai, menilai Pancasila tetap relevan bagi generasi muda di era digital. Menurut Rani, Pancasila dapat menjadi moral, identitas, sekaligus filter bagi anak muda dalam menyikapi berbagai persoalan dan derasnya informasi di media sosial.

“Pancasila menjadi identitas dan pegangan bagi generasi muda di tengah perbedaan serta arus media sosial dan derasnya informasi,” ucap Rani.

Ia mengatakan penerapan Pancasila dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui sikap menghormati dan menghargai sesama manusia. Menurutnya, keberagaman suku dan agama dalam kehidupan keluarga menjadi ruang nyata bagi generasi muda untuk menerapkan nilai kemanusiaan dan persatuan. Ia menambahkan pendidikan Pancasila perlu bergerak dari sekadar hafalan menuju praktik dan keteladanan. Ia menilai tenaga pendidik, pejabat, orang tua, dan masyarakat perlu memberikan contoh nyata agar nilai kejujuran, gotong royong, toleransi, dan keadilan dapat dipahami sekaligus diterapkan oleh generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....