Asap Ganggu Pendaratan Pesawat di Bandara Rendani Manokwari

  • 23 Agt 2026 12:05 WIB
  •  Manokwari

RRI. CO. ID, Manokwari – Kepulan asap akibat pembakaran mulai mengganggu jarak pandang pilot saat melakukan pendaratan di Bandara Rendani Manokwari. Kondisi ini membuat pihak UPBU Kelas II Rendani meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembakaran sampah dan material kering selama musim kemarau.

Kepala Kantor UPBU Kelas II Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan gangguan jarak pandang tersebut telah beberapa kali dikeluhkan pilot sejak 9 Agustus 2026, terutama ketika pesawat melakukan pendaratan dari arah selatan.

Menurut Herman, kepulan asap yang berada di sekitar area pendekatan landasan membuat pilot kesulitan melihat runway pada jarak yang seharusnya sudah memungkinkan untuk melakukan pendaratan.

“Dari tanggal 9 itu kami sudah beberapa kali mendapat keluhan dari pilot. Pada pagi hari khususnya, mereka mengeluhkan tidak bisa melihat landasan pada saat seharusnya sudah bisa melihat,” ujar Herman, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ia mengatakan, UPBU Rendani telah berupaya memaksimalkan fasilitas lampu pendaratan untuk membantu pilot. Namun, penerangan tersebut tidak banyak membantu apabila jarak pandang sudah tertutup asap.

Gangguan tersebut bahkan sempat menyebabkan seorang pilot mengalihkan pendaratan dari arah selatan ke arah utara karena landasan tidak dapat terlihat dengan jelas.

“Sejauh ini belum berdampak signifikan seperti delay ataupun pengalihan ke bandara lain. Tetapi memang mengganggu konsentrasi pilot pada saat melakukan pendaratan,” jelasnya.

Herman menyebut, pihaknya telah mengambil langkah dengan menyurati Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manokwari pada 13 Agustus 2026 terkait kepulan asap yang terlihat di sekitar wilayah bandara.

Selain itu, imbauan kepada masyarakat juga disampaikan melalui media sosial agar tidak melakukan pembakaran terbuka, mengingat kondisi kemarau menyebabkan daun dan sampah kering mudah terbakar.

“Kami mengimbau supaya kita semuanya berupaya mengurangi aktivitas yang menimbulkan atau menyebabkan terjadinya asap. Daun-daun kering dan sampah kering jangan dibakar, tetapi dikumpulkan dan dicari cara lain,” katanya.

Herman menambahkan, kepulan asap kembali terlihat pada 20 Agustus 2026. Pihaknya berharap masyarakat ikut menjaga kawasan sekitar bandara agar tidak terjadi gangguan jarak pandang yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Ia menegaskan, pihak UPBU Rendani tidak menginginkan kondisi tersebut berkembang hingga menyebabkan pesawat harus mengalihkan pendaratan ataupun mendarat di bandara lain.

“Yang tidak kita harapkan adalah sampai terjadi pengalihan pendaratan atau ke bandara lain. Karena itu, kami minta semua pihak bersama-sama mengurangi aktivitas yang menimbulkan asap,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....