PKS Dorong Remaja Kelola Emosi lewat Seni Lukis
- 23 Agt 2026 11:55 WIB
- Manokwari
RRI. CO. ID, Manokwari – Seni lukis dimanfaatkan sebagai media bagi remaja di Manokwari untuk mengekspresikan perasaan sekaligus belajar mengelola emosi. Hal ini dilakukan melalui workshop yang digelar Bidang Perempuan dan Keluarga (BIPEKA) DPW PKS Papua Barat bersama DPD PKS Manokwari dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI dan Hari Anak Nasional.
Ketua DPW PKS Papua Barat, H. Imam Muslih, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sebagai ajang perlombaan, melainkan sebagai ruang bebas bagi remaja untuk menuangkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan melalui lukisan.
“Tema psikologinya adalah upaya meregulasi emosi melalui media lukis. Apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasa, itu dituangkan dalam bentuk lukisan,” ujar Imam, Santa, 22 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kegiatan yang awalnya menargetkan 20 peserta tersebut mendapat respons positif dari remaja. Jumlah peserta yang mengikuti workshop mencapai sekitar 25 hingga 26 orang.
Imam berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak peserta, termasuk mahasiswa dan kelompok remaja lainnya.
Menurutnya, kegiatan kreatif dapat memberikan ruang bagi generasi muda untuk membangun kesehatan mental, mengembangkan bakat dan minat, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.
“Kita berharap ini membawa suasana kejiwaan yang lebih ceria dan menyenangkan, sekaligus menyalurkan bakat, minat dan perasaan mereka,” katanya.
Sementara itu, Konselor Sebaya Zaqhiea Tiara Fiqhy mengatakan workshop tersebut menjadi salah satu upaya untuk membantu remaja memahami dan mengelola emosinya dalam kehidupan sehari-hari.
Zaqhiea yang merupakan sarjana psikologi dan tengah menempuh pendidikan profesi psikologi ini berharap kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang positif bagi remaja ketika menghadapi berbagai persoalan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Harapannya dengan adanya kegiatan ini remaja-remaja di sini bisa lebih mampu meregulasi emosi ketika di sekolah atau mungkin di ruang lingkup yang lainnya,” ucapnya.
Ia menambahkan, upaya mengurangi persoalan seperti tawuran antarpelajar membutuhkan kegiatan yang lebih luas dan melibatkan berbagai sekolah di Manokwari.
“Kalau untuk mengatasi hal seperti tawuran, kita harus membuka kegiatan yang lebih luas lagi yang melibatkan sekolah-sekolah tersebut,” ujarnya.
Zaqhiea juga berpesan kepada pelajar agar tidak memandang pendidikan hanya sebatas pencapaian nilai akademik.
“Pendidikan itu tidak hanya sekadar mengejar angka 10 atau angka 100 di rapor, tapi tentang bagaimana kamu berkembang secara karakter, memahami diri sendiri dan memahami bagaimana caranya mengelola emosi,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....