Jejak Sejarah Islam di Papua Dinilai Fondasi Peradaban Bangsa
- 06 Agt 2026 10:59 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Sejarah masuknya Islam di Tanah Papua dinilai bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun peradaban dan memperkuat identitas kebangsaan. Karena itu, sejarah tersebut perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak terputus oleh perkembangan zaman. Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Fatwa dan Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Drs. H. Muhammad Ziyad, M.A., saat menghadiri pembukaan rangkaian peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua bertema Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri di Manokwari, Rabu, 5 Agustus 2026.
Muhammad Ziyad mengatakan sejarah merupakan akar yang menopang perjalanan suatu peradaban. Ia mengibaratkan sejarah sebagai akar pohon yang harus tetap kuat agar kehidupan masyarakat dapat terus tumbuh dan berkembang.
Menurutnya, sejarah tidak boleh dipahami hanya sebagai kumpulan tanggal maupun peristiwa. Lebih dari itu, sejarah menjadi rangkaian perjalanan peradaban yang membentuk jati diri suatu bangsa dan menjadi pijakan dalam menghadapi masa depan.
"Peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua menjadi momentum penting untuk mengingat kembali perjalanan dakwah Islam yang berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan, pelayaran, dan hubungan antarmasyarakat," katanya.
Muhammad Ziyad juga mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan MUI Papua Barat bersama pemerintah daerah dalam menghimpun, mengkaji, dan mendokumentasikan sejarah masuknya Islam di Papua.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga warisan sejarah agar tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ia menjelaskan, sejarah mencatat Syekh Abdul Ghofar dari Aceh menjadi salah satu tokoh yang membawa Islam ke wilayah Papua melalui jalur Kesultanan Tidore. Jalur tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara kawasan barat Nusantara dengan wilayah timur Indonesia sejak berabad-abad lalu.
Muhammad Ziyad berharap peringatan masuknya Islam di Tanah Papua tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat literasi sejarah, memperkokoh persaudaraan, serta membangun Papua Barat sebagai daerah yang damai, beradab, dan menghargai keberagaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....