Menembus Derasnya Air, Kapolres Pegaf Turun Langsung Evakuasi Yanto Idorway
- 29 Jul 2026 08:47 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari — Setelah sembilan hari berada dalam pencarian, kabar tentang keberadaan presenter TVRI Papua Barat, Yanto Idorway, akhirnya terjawab. Di tengah derasnya aliran Sungai Memti, bebatuan licin, dan medan terjal Pegunungan Arfak, tim gabungan menemukan korban terhimpit di sebuah celah batu yang menyerupai gua.
Bukan memimpin dari kejauhan, Kapolres Pegunungan Arfak AKBP Bernadus Okoka ikut turun langsung bersama tim gabungan dan masyarakat untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman.
Celah sempit di antara bebatuan menjadi titik terakhir pencarian. Untuk mencapai lokasi, tim harus berhadapan dengan medan yang tidak mudah. Aliran air terlebih dahulu dibendung untuk mengurangi debit sungai, sebelum tim dapat mendekati posisi korban.
Petunjuk keberadaan korban berawal dari temuan bau menyengat yang tercium dari arah celah batu. Warga kemudian menggunakan alat tradisional kalaway, untuk menyisir bagian dalam celah tersebut. Saat ditarik, alat itu tersangkut pada pakaian yang memperkuat dugaan bahwa korban berada di lokasi tersebut.
Setelah memastikan posisi korban, tim gabungan bersama masyarakat bergerak melakukan evakuasi. Dengan peralatan yang terbatas, tali digunakan untuk mengangkat jenazah dari himpitan bebatuan.
Kapolres Pegunungan Arfak AKBP Bernadus Okoka mengatakan, dirinya bersama personel dan masyarakat berupaya langsung memastikan proses evakuasi dapat dilakukan sebaik mungkin, meski kondisi medan cukup berat.
“Puji Tuhan, proses evakuasi tidak terlalu sulit. Dengan sarana yang ada, kami berhasil mengangkat korban dari celah batu menggunakan tali,” ujar Bernadus.
Proses tersebut menjadi akhir dari pencarian panjang yang melibatkan banyak pihak. Sejak Yanto dilaporkan hilang di kawasan Air Terjun Memti, berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyisiran sungai, pencarian di celah-celah batu hingga pemantauan menggunakan teknologi pendukung.
Namun, alam Pegunungan Arfak seolah menyimpan rapat keberadaan korban. Arus sungai yang deras, bebatuan besar dan licin, kabut tebal, serta kondisi medan yang terjal menjadi tantangan bagi setiap personel yang terlibat dalam pencarian.
Hingga akhirnya, sebuah celah batu menjadi titik yang mengakhiri penantian keluarga dan rekan-rekan Yanto. Bagi tim gabungan, proses evakuasi bukan sekadar mengangkat korban dari lokasi sulit. Ini adalah bentuk tanggung jawab kemanusiaan untuk membawa Yanto kembali kepada keluarganya setelah berhari-hari dinyatakan hilang.
Bernadus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang sejak awal ikut terlibat dalam pencarian, terutama masyarakat Kampung Sisrang, tokoh adat, tokoh masyarakat, personel TNI-Polri, relawan, serta seluruh unsur yang bekerja bersama di lapangan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan semua pihak yang telah membantu proses pencarian. Dukungan, kerja sama, dan doa dari seluruh masyarakat menjadi kekuatan hingga akhirnya korban dapat ditemukan,” katanya.
Jenazah Yanto selanjutnya dibawa ke RSUD Manokwari untuk menjalani pemeriksaan medis. Pihak kepolisian juga menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian korban.
Di balik proses evakuasi yang penuh perjuangan itu, tersisa satu pesan penting: bahwa di tengah medan alam yang keras dan penuh tantangan, pencarian terhadap seorang manusia tidak pernah berhenti selama masih ada harapan. Dan di Pegunungan Arfak, harapan itu akhirnya menemukan jawabannya di sebuah celah batu, di antara derasnya aliran Sungai Memti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....