Kinerja APBN Semester I 2026 Positif, Pemerintah Terus Kendalikan Inflasi

  • 29 Jul 2026 08:45 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara nasional hingga semester I tahun 2026 menunjukkan hasil positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan berbagai agenda pembangunan nasional.

Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Papua Barat yang diwakili Wahid mengatakan, sejumlah indikator ekonomi masih menjadi perhatian pemerintah, salah satunya inflasi yang tercatat 3,34 persen, atau masih berada di atas target pemerintah sebesar 2,5 persen.

Menurutnya, pemerintah terus melakukan berbagai langkah pengendalian, terutama terhadap harga bahan pangan bergejolak atau volatile food dan harga barang serta jasa yang diatur pemerintah (administered prices).

"Inflasi saat ini masih berada sedikit di atas target, di mana target yang ditetapkan adalah 2,5 persen, sementara realisasi tercatat sebesar 3,34 persen. Pemerintah terus berupaya mengendalikan inflasi, baik yang bersifat volatile food maupun administered prices," ujarnya.

Ia berharap berbagai kebijakan yang telah dirumuskan pemerintah dapat menahan kenaikan harga energi dan bahan pangan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan kebutuhan pokok dapat dijangkau dengan baik.

Sementara itu, dari sisi nilai tukar, realisasi rupiah pada semester I tahun 2026 tercatat sebesar Rp17.197 per dolar AS. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi nilai tukar dalam APBN yang ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar yang cukup volatil tersebut dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi geopolitik global yang masih bergejolak.

"Pergerakan nilai tukar yang volatil ini lebih banyak dipengaruhi faktor global atau eksternal. Kondisi geopolitik global yang sedang bergejolak turut memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah," ucapnya.

Di sisi lain, realisasi APBN semester I tahun 2026 mencatat kinerja positif. Pendapatan negara tumbuh 21,4 persen menjadi Rp1.459,4 triliun, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun atau meningkat 17,8 persen.

Defisit anggaran tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara keseimbangan primer berada pada posisi surplus sebesar Rp85,1 triliun.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan belanja negara yang mencapai 17,8 persen masih mampu diimbangi dengan peningkatan pendapatan negara yang tumbuh 21,4 persen.

Pemerintah berharap kinerja APBN tersebut terus menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pertumbuhan, serta memastikan agenda pembangunan nasional tetap berjalan secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....