Kopi Toleransi Vol. 3 Jadi Ruang Merajut Harmoni Lintas Agama di Papua Barat

  • 23 Jul 2026 20:38 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Secangkir kopi menjadi pembuka percakapan tentang keberagaman. Di tengah perbedaan keyakinan, latar belakang, dan tradisi, ruang dialog menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan dan merawat kerukunan di Papua Barat.

Semangat itu terasa dalam kegiatan Kopi Toleransi Vol. 3 yang mengusung tema “Merajut Harmoni dalam Toleransi”. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang perjumpaan bagi berbagai elemen masyarakat untuk berbagi pandangan tentang pentingnya menjaga toleransi dalam kehidupan bersama.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas agama, di antaranya Ustadz Das'ad Latif dan Bante Dhirapunno Thera, dengan Ponijan Liaw sebagai pembawa acara.

Ustadz Das'ad Latif menekankan bahwa toleransi harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

“Toleransi itu bukan berarti kita harus menyamakan semua keyakinan. Kita tetap dengan agama dan keyakinan masing-masing, tetapi kita harus mampu menghormati orang lain yang berbeda. Karena perbedaan itu adalah kenyataan yang harus kita terima dan menjadi kekuatan untuk hidup bersama,” ujar Ustadz Das'ad Latif.

Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum-forum resmi, tetapi harus dimulai dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Suasana dialog dipandu Ponijan Liaw dengan nuansa komunikatif dan penuh keakraban. Peserta diajak melihat toleransi bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai nilai yang perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menghargai, dan menjaga hubungan baik antar sesama.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pimpinan Universitas Papua (Unipa), Wakil Bupati Manokwari, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tokoh adat di Papua Barat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa upaya merawat toleransi membutuhkan keterlibatan bersama. Sebab, kerukunan tidak hanya dibangun melalui kebijakan, tetapi juga melalui perjumpaan dan komunikasi yang terus dirawat di tengah masyarakat.

Dari ruang sederhana bernama Kopi Toleransi, pesan besar tentang persaudaraan kembali ditegaskan. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kekuatan untuk saling mengenal, memahami, dan berjalan bersama menjaga kedamaian di Tanah Papua.

Melalui kegiatan seperti ini, toleransi diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkungan keluarga, komunitas, hingga ruang publik.

Kopi Toleransi pun menjadi pengingat bahwa merajut harmoni adalah pekerjaan bersama. Dimulai dari percakapan sederhana, dilanjutkan dengan saling memahami, dan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga Papua Barat tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....