135 Peserta Ramaikan Lomba Panahan Tradisional Teluk Bintuni

  • 30 Mei 2026 17:51 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Sebanyak 135 peserta mengikuti lomba panahan tradisional Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Teluk Bintuni yang digelar di Lapangan Gedung Serbaguna (GSG), Kompleks Kali Kodok, Jumat (29/5/2026). Para peserta menggunakan panah tradisional berbahan bambu untuk memperebutkan gelar juara.

Koordinator Panahan Porseni Teluk Bintuni, Kadarusman, mengatakan lomba panahan ini merangkai HUT Teluk Bintuni ke-23 Tahun. Adapun peserta yang mengikuti lomba ini sebagian besar berasal dari wilayah pegunungan, sementara peserta dari wilayah pesisir berasal dari Distrik Kamundan.

"Peserta sebagian besar berasal dari distrik pegunungan seperti Moskona Utara, Moskona Utara Jauh, Moskona Timur, Moskona Barat, Merdey, Masyeta, dan Distrik Biscoop. Pesisir yang ikut dari Distrik Kamundan," Kata Kadarusman.

Ia menjelaskan, perlombaan menggunakan sistem gugur yang diawali dengan babak kualifikasi sebanyak enam sesi. Peserta yang berhasil lolos ke 32 besar kemudian melanjutkan pertandingan pada babak eliminasi hingga tersisa empat finalis.

"Yang lolos ke 32 besar masuk ke babak eliminasi sampai ke 16 besar, lalu 8 besar hingga menggunakan sistem gugur sampai final. Kita ambil empat orang finalis untuk juara 1 sampai 4," ujarnya. Para pemenang akan memperoleh medali, uang pembinaan dengan nilai maksimal Rp3 juta, serta sertifikat penghargaan.

Juara Pertama Panahan Tradisional Marten Orocomna yang juga Kepala kampung Majnic distrik Moskona Barat berharap pemerintah Teluk Bintuni terus mempertahankan perlombaan panahan tradisional ini. "Ke depan semoga pemerintah daerah bikin begini ni lagi," Katanya.

Sementara itu, peserta sekaligus Koordinator Panahan Tradisional, Siprianus Yerkohok, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga yang telah memasukkan panahan tradisional dalam ajang Porseni.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya penting dalam melestarikan budaya Orang Asli Papua (OAP), khususnya tradisi panahan yang telah diwariskan turun-temurun.

"Saya harap suku lain ke depan kita sama-sama meningkatkan kebudayaan panahan sebagai anak adat tujuh suku," Ujar Siprianus.

Ia juga berharap pemerintah daerah terus memberikan pembinaan terhadap cabang panahan tradisional agar mampu melahirkan atlet-atlet yang berprestasi sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal di Teluk Bintuni.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....