SMTKN Pelita Sambab Permudah Akses Pendidikan Siswa Terpencil
- 02 Mei 2026 13:55 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Keterbatasan akses dan jarak dari keluarga tidak menyurutkan semangat sejumlah pelajar untuk menempuh pendidikan. Kondisi tersebut justru menjadi ruang pembentukan karakter dan kemandirian, seperti yang dialami Yabes Mikael Apoki, siswa Sekolah Menengah Teologi Kristen Negeri (SMTKN) Pelita Sambab.
Yabes, siswa kelas XI asal Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw, telah menetap di asrama sekolah yang berlokasi di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, selama lebih dari satu tahun. Bersama belasan siswa lainnya, ia menjalani kehidupan berasrama sebagai bagian dari proses pendidikan.
Aktivitas harian di asrama berlangsung secara teratur dan disiplin. Para siswa memulai hari sejak pagi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, kemudian kembali ke asrama untuk beristirahat serta menjalani pembinaan karakter.
“Di asrama kami dibiasakan hidup disiplin, termasuk dalam penggunaan ponsel yang diatur pada waktu tertentu,” kata Yabes.
Pada awal masa tinggal, Yabes mengaku menghadapi tantangan adaptasi, terutama karena harus berpisah dari keluarga dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, ia mampu menyesuaikan diri dan menjalani rutinitas dengan baik.
Pengalaman hidup mandiri tersebut turut membentuk tanggung jawab pribadi, mulai dari mengatur kebutuhan sehari-hari hingga menjaga kedisiplinan dalam belajar. Kondisi ini juga berdampak positif terhadap capaian akademiknya.
Ia menilai lingkungan asrama memberikan suasana yang lebih kondusif untuk belajar dibandingkan saat tinggal di luar lingkungan sekolah.
“Suasana di asrama mendukung proses belajar, sehingga saya bisa lebih fokus,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala SMTKN Pelita Sambab, Willem Buiswarin, menegaskan bahwa keberadaan asrama menjadi solusi bagi siswa dari wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
“Sebagian besar penghuni asrama berasal dari daerah yang jauh, sehingga fasilitas ini sangat membantu mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan,” jelas Willem.
Ia menambahkan, bangunan asrama saat ini merupakan fasilitas yang dialihfungsikan dari gedung lama. Meski demikian, pengelolaan masih bersifat sementara dan membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat ke depan.
“Kami berharap ada regulasi yang jelas agar pengelolaan asrama dapat dilakukan secara lebih optimal,” ujarnya.
Yabes menjadi cerminan bahwa keterbatasan akses dan jarak tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan. Dengan dukungan fasilitas yang ada, diharapkan semakin banyak pelajar dari wilayah terpencil dapat mengenyam pendidikan yang layak sekaligus membangun kemandirian sebagai bekal masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....