Pemda Tetapkan KLB Campak-Rubella, Dinkes Papua Barat Genjot ORI

  • 28 Apr 2026 11:43 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Pemerintah Provinsi Papua Barat, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan rubella di Kabupaten Teluk Wondama, dan Fakfak. Menyikapi kondisi tersebut, tim surveilans Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat bersama tim kabupaten, puskesmas, serta kader kesehatan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons cepat, guna menekan penyebaran kasus.

Kegiatan ORI telah dimulai sejak Senin, 20 April 2026, lalu yang diawali dengan rapat koordinasi bersama puskesmas, dinas kesehatan kabupaten, dan kader. Selain itu, dilakukan penetapan sasaran, pemetaan wilayah kasus, advokasi lintas sektor di tingkat distrik dan kampung, serta koordinasi dengan Badan Karantina Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Papua Barat, Frans Abidondifu, saat di hubungi oleh RRI melalui Telepon, dirinya menegaskan, pentingnya percepatan imunisasi untuk memutus rantai penularan.

“Pelaksanaan ORI ini merupakan langkah cepat pemerintah untuk menekan penyebaran campak dan rubella, terutama pada kelompok rentan seperti anak usia 9 hingga 59 bulan,” ujarnya.

Berdasarkan data sementara hingga hari ketiga, capaian imunisasi di Teluk Wondama mencapai 388 anak dari target 1.703 anak atau sekitar 23 persen. Sementara di Fakfak, sebanyak 367 anak telah diimunisasi dari target 1.412 anak. Di Teluk Wondama, kegiatan difokuskan pada wilayah kerja Puskesmas Wasior dan Ondibay, sedangkan di Fakfak terpusat di wilayah Puskesmas Sekban.

Untuk meningkatkan cakupan, tim mengubah strategi pelaksanaan dengan memfokuskan layanan pada satu hingga dua kampung per hari, disertai kegiatan sweeping bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Frans Abidondifu juga menyoroti pentingnya dukungan masyarakat dalam keberhasilan program ini.

“Kami mengimbau orang tua untuk tidak ragu membawa anaknya ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat, karena imunisasi ini aman, efektif, dan diberikan secara gratis,” katanya.

Meski demikian, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, seperti kesiapan masyarakat yang berbeda-beda dalam menerima imunisasi serta perlunya edukasi lebih lanjut terkait risiko komplikasi berat akibat campak dan rubella.

Dinas Kesehatan mengingatkan, jika cakupan imunisasi tidak mencapai 95 persen, kekebalan kelompok (herd immunity) tidak akan terbentuk. Hal ini dapat meningkatkan risiko penularan serta komplikasi serius seperti pneumonia, diare, hingga kematian, bahkan berisiko menyebabkan keguguran pada ibu hamil.

Pemerintah daerah pun mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif menyukseskan program ORI dengan memastikan anak usia 9 hingga 59 bulan mendapatkan imunisasi lengkap di fasilitas layanan kesehatan terdekat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....