Komunikasi Kunci Bangun Ketahanan Keluarga yang Tangguh

  • 20 Feb 2026 19:40 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Ketahanan keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk kesiapan individu menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks. Psikolog Aswendo Dwitantyanov, M.Psi., menyampaikan hal tersebut dalam podcast bersama RRI Manokwari, seraya mengibaratkan keluarga sebagai “amunisi” sebelum seseorang terjun ke masyarakat.

Menurut Aswendo, keluarga yang tangguh menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter individu. Ia mengibaratkan keluarga sebagai pondasi rumah yang kokoh, sehingga bangunan kehidupan di atasnya dapat berdiri dengan baik. Untuk itu, peran setiap anggota keluarga, mulai dari ayah, ibu, hingga saudara dan anggota keluarga lain, perlu bersinergi agar tercipta keseimbangan dalam rumah tangga. Ia menjelaskan, komunikasi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan keluarga. Tanpa komunikasi yang baik, hubungan antaranggota keluarga berpotensi mengalami ketidakseimbangan.

“Jadi komunikasi sendiri kan ada dua ya, verbal dan nonverbal. Kalau kita bicara komunikasi yang lebih mudah menimbulkan mispersepsi atau salah paham itu yang verbal. Maka dari itu apapun yang kita rasakan dan fikirkan maka sampaikan,” jelasnya.

Aswendo menambahkan, penyampaian pesan secara verbal tidak selalu dipahami sesuai harapan, sehingga penting untuk memastikan komunikasi berlangsung jelas dan terbuka. Ia menilai persoalan komunikasi keluarga saat ini cukup serius, bahkan berdampak pada meningkatnya berbagai masalah sosial, termasuk tingginya angka bunuh diri yang dalam sejumlah kajian berkaitan dengan lemahnya komunikasi di dalam keluarga.

“Ketika komunikasi di keluarga antara orang tua dan anak itu tidak terjalin dengan baik, maka anak ini kecerdasan emosionalnya cenderung rendah. Kalau kecerdasan emosionalnya rendah, ketika dia menghadapi stressor di masyarakat, maka dia tidak akan punya banyak pilihan alternatif solusi dan akan mengambil jalan pintas,” ujarnya.

Untuk menjaga keutuhan keluarga, ia menekankan pentingnya komunikasi terapeutik yang saling melengkapi, menghargai, serta memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan dan harapan. Orang tua, kata dia, tidak hanya memberi arahan, tetapi juga harus mau mendengar anak sehingga tercipta komunikasi dua arah yang setara.

Ia menambahkan, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk memulihkan luka psikologis ketika menghadapi masalah di sekolah maupun lingkungan sosial. Jika pola komunikasi sehat sudah terbentuk sejak dini, anak akan mengadopsi nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan berkeluarga di masa depan. Dengan demikian, ketahanan keluarga dapat terbangun secara berkelanjutan dan menjadi kekuatan sosial di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....