Sulap Limbah Dapur Jadi Pupuk Organik
- 11 Feb 2026 13:29 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Pemanfaatan limbah rumah tangga kini bukan sekadar tren, melainkan menjadi kebutuhan mendesak di era modern. Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Papua Barat, Teguh Santoso, S.Hut, dalam podcast bersama RRI Manokwari. Menurutnya, pertumbuhan populasi dan gaya hidup konsumtif berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Teguh menjelaskan, limbah rumah tangga sangat beragam, mulai dari sisa makanan, kertas, plastik, botol kaca hingga bumbu dapur. Setiap jenis limbah memiliki potensi pemanfaatan yang berbeda, terutama untuk mendukung kebutuhan pertanian. Jika diolah secara tepat, limbah tersebut dapat menjadi pupuk organik maupun pestisida alami yang ramah lingkungan.
Dalam dunia pertanian, tanaman membutuhkan unsur hara makro dan mikro untuk tumbuh optimal. Unsur hara makro yang dikenal sebagai NPK terdiri dari Nitrogen (N), Posfat (P), dan Kalium (K), sementara unsur mikro meliputi boron, magnesium, hingga unsur benefisial yang dibutuhkan dalam jumlah kecil. Pada fase vegetatif atau pertumbuhan awal, tanaman lebih banyak memerlukan nitrogen, sedangkan saat memasuki fase berbunga dan berbuah, kebutuhan posfat dan kalium meningkat.
Sumber nitrogen organik, lanjut Teguh, dapat diperoleh dari limbah hijauan seperti batang kangkung yang difermentasi menggunakan metode komposter sederhana. Proses fermentasi dapat dilakukan dalam galon atau ember tertutup rapat dengan tambahan bioaktivator seperti air cucian beras atau bakteri dari susu basi. Namun, ia mengingatkan agar proses fermentasi diperhatikan dengan baik karena menghasilkan gas metana, sehingga perlu saluran pembuangan gas agar aman. Setelah tujuh hari fermentasi, larutan pupuk dapat digunakan dengan perbandingan 1 banding 10.
Sementara itu, sumber posfat dan kalium banyak terdapat pada kulit pisang dan kulit kentang. Bahan tersebut dapat dikukus, diblender, kemudian difermentasi selama tujuh hari untuk menghasilkan pupuk cair alami. Selain itu, sereh juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengusir lalat buah, kutu daun, tungau, dan hama lainnya dengan cara direbus dan disemprotkan secara berkala.
Teguh juga menyebutkan sejumlah bahan dapur lain yang bermanfaat, seperti lengkuas sebagai fungisida alami untuk mengendalikan jamur. Untuk merangsang pembuahan, micin yang mengandung monosodium dapat digunakan, namun tetap harus diimbangi dengan ketersediaan posfat dan kalium agar buah tidak gagal berkembang. Sedangkan untuk mencegah kerontokan buah akibat kekurangan kalsium, kulit telur yang dikeringkan dan dihaluskan dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium sekaligus penolak bekicot.
“Masyarakat yang tidak memiliki pekarangan tetap dapat bercocok tanam secara mandiri menggunakan pot atau polybag dengan memperhatikan kecukupan unsur hara. Tanaman itu seperti manusia yang membutuhkan gizi seimbang. Jika limbah rumah tangga kita kelola dengan baik, maka bisa menjadi pupuk dan pestisida alami yang bermanfaat. Selain mengurangi sampah, kita juga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.
Teguh Santoso mengajak masyarakat Papua Barat untuk mulai mengubah pola pikir terhadap limbah rumah tangga, dari yang sebelumnya dianggap sampah menjadi sumber daya yang bernilai. Menurutnya, langkah kecil seperti mengolah sisa dapur menjadi pupuk dan pestisida alami tidak hanya membantu menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga. Ia berharap kesadaran ini dapat tumbuh di tengah masyarakat sehingga tercipta budaya bertani yang mandiri, hemat, dan ramah lingkungan di Provinsi Papua Barat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....