16 Negara Mengikuti Simposium International Flora Malesiana Ke12
- 11 Feb 2026 08:47 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam resmi digelar di Manokwari, Papua Barat, pada 9–14 Februari 2026. Forum ilmiah bergengsi ini diikuti sekitar 300 peserta dari 16 negara, termasuk 53 peserta internasional, untuk membahas solusi krisis iklim hingga penguatan ketahanan pangan berbasis sumber daya alam lokal, pada Senin 09 Februari 2026.
Ketua Bersama I, Prof. Charlie D. Heatubun, mengatakan Papua memiliki posisi strategis dalam percaturan keanekaragaman hayati dunia, khususnya tumbuhan. Karena itu, forum ini diharapkan mampu menjembatani hasil riset ilmiah dengan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.
“Papua merupakan pulau dengan tingkat keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi di dunia. Seminar ini diharapkan menjadi jembatan antara hasil riset ilmiah dengan implementasinya dalam kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Simposium tiga tahunan tersebut untuk pertama kalinya dilaksanakan di Tanah Papua melalui kolaborasi berbagai lembaga nasional dan internasional. Peserta mancanegara berasal dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Papua Nugini, Inggris, India, Jerman, Prancis, Kanada, Jepang, serta Indonesia sebagai tuan rumah.
Selama pelaksanaan, kegiatan menghadirkan 15 sesi pleno dengan narasumber internasional dan 28 sesi panel. Lebih dari 100 makalah ilmiah serta 17 poster dipresentasikan, dengan fokus pada keanekaragaman tumbuhan, konservasi, serta solusi iklim berbasis alam (nature-based solutions). Isu yang dibahas mencakup krisis kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, energi, pangan, hingga polusi, termasuk upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat adat.
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, perlindungan hutan dan laut menjadi solusi mutlak menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
“Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian merupakan pesan positif bahwa Papua Barat, khususnya Manokwari, adalah daerah yang aman, kondusif, dan nyaman untuk dikunjungi,” ujarnya
Ia juga mengingatkan bahwa Papua Barat sebagai provinsi berkelanjutan memiliki karakter wilayah yang rentan, dengan sekitar 60 persen wilayah berupa pegunungan dan perbukitan. Hutan alam yang masih tersisa lebih dari 70 persen sebagian besar tumbuh di atas lapisan tanah yang relatif tipis, sehingga membutuhkan pengelolaan yang bijaksana dan berkelanjutan.
Melalui simposium ini, diharapkan terbangun kerja sama internasional yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan global, sekaligus memperkuat posisi Papua sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia dan laboratorium alami untuk solusi iklim berbasis alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....