BNN Papua Barat Waspadai Ancaman Narkotika Remaja
- 10 Feb 2026 12:08 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Ancaman penyalahgunaan narkotika di Papua Barat dinilai sudah berada pada tingkat yang sangat serius dan membahayakan generasi muda.
Berdasarkan hasil pemantauan dan pengambilan sampel secara acak, penyalahgunaan narkotika bahkan telah menyentuh pelajar dari jenjang SD hingga SMA, yang berdampak pada menurunnya rasa percaya diri dan motivasi para pemuda. Hal ini disampaikan oleh drg. Indah Perwitasari selaku Penyuluh Ahli Madya P2M (Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat) BNN (Badan Narkotika Nasional) Provinsi Papua Barat dalam dialog bersama Pro 2 Manokwari pada Rabu, 28 Januari 2026.
Drg. Indah Perwitasari menjelaskan, banyak anak muda menggunakan narkotika dan alkohol karena ingin diakui dalam pergaulan. Mereka menganggap penggunaan ganja atau minuman keras dapat meningkatkan keberanian dan kemampuan bersosialisasi, padahal sesungguhnya anak-anak Papua memiliki potensi besar untuk berkarya tanpa harus bergantung pada zat adiktif. Hal ini terlihat dalam program ketahanan diri remaja yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Manokwari, di mana para siswa mampu menunjukkan kemampuan luar biasa saat diberi tantangan, meski masih terkendala kepercayaan diri.
“Jenis narkoba yang menjadi tren di Papua Barat saat ini adalah ganja dan tembakau gorilla. Dampaknya sangat serius karena membuat pemuda menjadi malas, tidak mau bersekolah, dan enggan beraktivitas. Jika ini dibiarkan, kita harus bertanya bagaimana kondisi generasi muda sepuluh tahun ke depan,” jelasnya.
Menurutnya, anak muda menjadi target utama peredaran narkoba karena berada pada usia produktif dan memiliki jaringan pertemanan luas, termasuk melalui media sosial lintas daerah. Tidak sedikit pula yang terlibat sebagai pengedar karena tergiur keuntungan finansial. Namun, akar persoalan sering kali berangkat dari kondisi keluarga, seperti kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua, sehingga anak mencari pengakuan dan kebahagiaan di luar rumah.
Dari sisi kesehatan, penyalahgunaan ganja dan narkotika lainnya menimbulkan dampak serius, mulai dari gangguan sirkulasi darah, perubahan pada mata dan gigi, kerusakan organ tubuh seperti ginjal dan jantung, hingga berujung pada kematian. Tanda awal penggunaan narkotika dapat terlihat dari perubahan perilaku, pandangan mata kosong, bicara lambat, serta menurunnya kemampuan berpikir dan konsentrasi.
BNN Papua Barat menyediakan layanan rehabilitasi gratis yang tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis. Dalam proses rehabilitasi, keterlibatan keluarga menjadi kunci utama. Data BNN menunjukkan sekitar 85 persen pengguna narkotika dipicu oleh permasalahan keluarga, sementara 15 persen lainnya disebabkan oleh faktor ekonomi.
“Kadangkala kita lupa sebagai orang tua yang membanding-bandingkan anak, karena kelihatannya sepele sekali tetapi itu sangat menyakitkan hati seorang anak. Kemudian orang tua selalu berkelahi didepan anak dan akhirnya mereka mencari kedamaian diluar. Begitu juga dengan lingkungan, semuanya baik tapi lingkungannya pecandu dan pengedar semua ya tentu susah untuk memprotecnya, setidaknya keluarga harus pindah dari lingkungan itu. Karena Sebagian besar pecandu yang sudah direhabilitasi tetapi kembali lagi pada basic lingkungannya yang pemakai dan pengedar dia akan kembali lagi,” ujarnya.
BNN Papua Barat terus mendorong program ketahanan keluarga dan Desa Bersinar sebagai upaya pencegahan dan pemulihan berkelanjutan. Program ini mencakup penguatan komunikasi dalam keluarga, pencegahan di lingkungan sekolah melalui pengembangan soft skill, serta pelatihan life skill bagi mantan narapidana kasus narkotika agar dapat kembali produktif dan tidak terjerumus kembali ke lingkungan lama yang berisiko.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....