Mengamati Hilal: Penentu Awal Syawal dan Lebaran

  • 28 Feb 2025 17:04 WIB
  •  Manokwari

KBRN, Manokwari: Menjelang lebaran, pengamatan hilal menjadi momen penting bagi pemerintah dan organisasi masyarakat Islam untuk menentukan awal 1 Syawal. Pengamatan ini bertujuan memastikan kapan Ramadan berakhir dan Idulfitri dimulai, sesuai dengan sistem penanggalan Hijriah yang didasarkan pada pergerakan bulan.

Hilal sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti "bulan sabit", konteks kalender Hijriah, hilal merujuk pada bulan sabit pertama yang terlihat setelah fase bulan baru. Hilal muncul sekitar 12 jam setelah bulan baru, sehingga bentuknya sangat tipis dan sering kali sulit diamati.

Tak semua bulan sabit bisa disebut hilal, ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi, yaitu hilal hanya dianggap sah jika terlihat setelah matahari terbenam. Bulan sabit yang terlihat di pagi atau siang hari bukanlah hilal, melainkan bulan sabit tua yang muncul sebelum fase bulan baru.

Untuk mengamati hilal, para ahli menggunakan alat seperti teleskop atau teropong bintang. Mengingat hilal yang tipis dan redup, pengamatan dengan mata telanjang menjadi tantangan, sehingga teknologi astronomi sangat membantu dalam memastikan kehadiran hilal.

Waktu pengamatan hilal juga singkat, biasanya kurang dari 24 menit setelah matahari terbenam. Pada saat itu, hilal berada di bawah 6 derajat dari cakrawala, membuatnya cepat tenggelam dan sulit terlihat.

Ketika hilal terlihat, malam itu langsung menjadi awal bulan baru dalam kalender Hijriah, jika hilal yang diamati menandai awal Syawal, maka umat Islam akan mengakhiri ibadah Ramadan seperti salat tarawih dan sahur. Memahami pentingnya pengamatan hilal, kita semakin sadar bahwa penentuan lebaran bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari ilmu astronomi dan keyakinan agama yang berjalan berdampingan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....