Mengenal Tempe Benguk, Saudara Dekat Tempe Dele yang Mulai Dilirik
- 04 Agt 2026 18:59 WIB
- Manokwari
Poin Utama
- Indonesia juga memiliki tempe benguk, pangan tradisional yang dibuat dari biji benguk (Mucuna pruriens) dan masih banyak dijumpai di sejumlah daerah, terutama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada bahan baku, cita rasa, tekstur, hingga proses pengolahannya
- Biji benguk mengandung senyawa antinutrisi, termasuk L-DOPA, sehingga harus melalui proses perendaman, perebusan, dan pencucian berulang sebelum difermentasi.
- Keberadaan tempe benguk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam.
RRI.CO.ID - Tempe merupakan salah satu makanan fermentasi khas Indonesia yang telah dikenal luas, bahkan di berbagai negara. Selama ini masyarakat lebih akrab dengan tempe kedelai atau tempe dele. Namun, Indonesia juga memiliki tempe benguk, pangan tradisional yang dibuat dari biji benguk (Mucuna pruriens) dan masih banyak dijumpai di sejumlah daerah, terutama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekilas, kedua jenis tempe ini tampak serupa karena sama-sama dihasilkan melalui proses fermentasi menggunakan kapang Rhizopus. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada bahan baku, cita rasa, tekstur, hingga proses pengolahannya.
Tempe dele dibuat dari biji kedelai (Glycine max) yang difermentasi sehingga menghasilkan tekstur padat namun lembut, berwarna putih, serta memiliki cita rasa gurih yang ringan. Tempe jenis ini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia karena mudah diolah menjadi berbagai menu, mulai dari goreng, bacem, orek, hingga aneka masakan tradisional lainnya.
Sementara itu, tempe benguk berasal dari biji benguk (Mucuna pruriens), sejenis tanaman polong yang telah lama dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif. Tempe ini memiliki warna lebih gelap dengan tekstur yang cenderung lebih padat dan rasa yang lebih khas dibandingkan tempe kedelai.
Perbedaan lainnya terdapat pada proses pembuatannya. Biji benguk mengandung senyawa antinutrisi, termasuk L-DOPA, sehingga harus melalui proses perendaman, perebusan, dan pencucian berulang sebelum difermentasi. Tahapan tersebut bertujuan menurunkan kadar senyawa antinutrisi sehingga aman dikonsumsi. Sebaliknya, kedelai memerlukan proses pengolahan yang lebih sederhana sehingga lebih praktis untuk dijadikan tempe.
Dari sisi kandungan gizi, keduanya sama-sama merupakan sumber protein nabati yang baik. Fermentasi membantu meningkatkan kecernaan protein serta memperbaiki mutu gizi tempe. Tempe benguk juga mengandung serat dan mineral, sedangkan tempe kedelai dikenal kaya akan protein, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan.
Keberadaan tempe benguk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap diversifikasi pangan, tempe benguk menjadi salah satu alternatif sumber protein nabati yang patut dilestarikan. Sementara itu, tempe dele tetap menjadi pangan favorit masyarakat karena mudah diperoleh dan telah menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara.
Mengenal perbedaan kedua jenis tempe ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan melestarikan warisan kuliner Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....