Jangan Anggap Wajar Anak Telat Bicara
- 16 Sep 2026 04:55 WIB
- Manokwari
RRI.CO ID, Manokwari – Banyak orang tua merasa tenang ketika anak usia dua atau tiga tahun belum lancar berbicara. Kalimat seperti "nanti juga bisa sendiri" atau "anak laki-laki memang lebih lambat bicara" masih sering terdengar. Padahal, keterlambatan bicara atau speech delay tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian normal dari tumbuh kembang anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa kemampuan bicara dan bahasa memiliki tahapan perkembangan yang dapat diamati sejak bayi. Pada usia sekitar 6 bulan, bayi umumnya mulai mengoceh (babbling) seperti "ba-ba" atau "ma-ma", sedangkan pada usia 12 bulan biasanya sudah merespons saat namanya dipanggil dan mulai menggunakan isyarat seperti menunjuk atau melambaikan tangan.
Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan keterlambatan bicara adalah penggunaan gawai atau screen time yang berlebihan. Anak yang terlalu lama menonton video atau televisi secara pasif cenderung menerima rangsangan satu arah sehingga kesempatan untuk berlatih berkomunikasi menjadi lebih sedikit. Selain itu, kurangnya interaksi langsung antara anak dan orang tua juga dapat menghambat perkembangan bahasa.
| Baca juga: 5 Tips Membangunkan Anak di Pagi Hari |
Kebiasaan langsung memenuhi keinginan anak tanpa mengajaknya berbicara juga dapat mengurangi stimulasi bahasa. Misalnya, ketika anak hanya menunjuk botol minum lalu orang tua langsung memberikannya tanpa mengajak anak mengucapkan kata sederhana terlebih dahulu.
Perkembangan kemampuan makan juga tidak kalah penting. Sejumlah praktisi tumbuh kembang anak menilai bahwa pengenalan tekstur makanan yang sesuai usia membantu melatih otot mulut (oral motor) yang berperan dalam proses berbicara dan artikulasi.
Ada beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian orang tua. IDAI mencatat bahwa anak yang belum menunjukkan babbling pada usia sekitar 12 bulan atau tidak merespons panggilan namanya perlu dievaluasi lebih lanjut. Pada usia 16–18 bulan, anak umumnya sudah mulai memiliki sejumlah kata bermakna. Sementara memasuki usia 24 bulan, anak biasanya telah mampu menggabungkan dua kata sederhana seperti "mau susu" atau "mama datang".
Tahapan perkembangan bahasa yang serupa juga dijelaskan dalam publikasi American Academy of Family Physicians (AAFP). Pada usia 18 bulan anak umumnya mencoba mengucapkan sedikitnya beberapa kata selain "mama" dan "papa", sedangkan pada usia 24 bulan sudah mulai menggunakan frasa dua kata.
Orang tua juga perlu waspada apabila anak hanya mengulang ucapan orang lain (echolalia) tanpa memahami maknanya, kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dimiliki, atau tampak tidak tertarik berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda perlunya pemeriksaan lebih lanjut.
Para ahli menekankan bahwa speech delay bukan sekadar masalah terlambat mengucapkan kata pertama. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan sosial, perkembangan emosi, hingga proses belajar anak saat memasuki usia sekolah.
Karena itu, apabila orang tua menemukan tanda-tanda keterlambatan bicara, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau terapis wicara. Deteksi dan intervensi dini dapat membantu anak memperoleh stimulasi yang tepat sehingga peluang perkembangan bahasa menjadi lebih optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....