Vape Terlihat Aman, tapi Risikonya Bikin Terkejut

  • 28 Agt 2026 11:57 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari: Vape atau rokok elektronik sering dipersepsikan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Anggapan ini perlu diluruskan. Memang, aerosol vape umumnya mengandung lebih sedikit dan kadar lebih rendah dari sebagian zat beracun dibandingkan asap rokok yang dibakar.

Namun, lebih rendah risikonya dibandingkan rokok konvensional tidak berarti vape aman. Organisasi kesehatan seperti World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa rokok elektronik dapat menyebabkan paparan nikotin dan berbagai zat yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Vape bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) sehingga menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup ke dalam paru-paru. Cairan tersebut dapat mengandung nikotin, perasa, serta berbagai bahan kimia lainnya.

Aerosol vape bukan sekadar "uap air". Penelitian menunjukkan bahwa aerosol dapat mengandung nikotin, partikel ultrahalus, senyawa organik volatil, serta logam berat seperti nikel, timah, dan timbal. Beberapa bahan kimia yang terbentuk atau terdapat dalam aerosol juga berpotensi menyebabkan kerusakan sel.

Karena komposisi dan karakteristik perangkat vape sangat beragam, jumlah nikotin dan zat kimia yang terhirup dapat berbeda-beda. Bahkan, produk yang diklaim bebas nikotin tidak selalu dapat diasumsikan benar-benar bebas nikotin. WHO juga memperingatkan bahwa sebagian produk yang diklaim tanpa nikotin pernah ditemukan mengandung nikotin.

Vape atau rokok elektronik sering dianggap lebih aman daripada rokok biasa. Namun, lebih rendah risikonya bukan berarti aman. Aerosol vape dapat mengandung nikotin, partikel halus, logam berat, senyawa organik volatil, serta bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Berikut beberapa bahaya Vape bagi kesehatan:

  1. Menyebabkan ketergantungan,Sebagian besar vape mengandung nikotin yang sangat adiktif. Pada remaja, nikotin dapat mengganggu perkembangan otak, termasuk kemampuan belajar, perhatian, suasana hati, dan pengendalian impuls.
  2. Mengganggu kesehatan paru-paru,Partikel dan bahan kimia dalam aerosol vape dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu stres oksidatif yang berpotensi merusak jaringan paru-paru. Dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.
  3. Memengaruhi jantung,Nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan memengaruhi sistem kardiovaskular. Karena itu, vape tidak dapat dianggap tanpa risiko bagi kesehatan jantung.
  4. Mengandung zat berbahaya, Aerosol vape dapat mengandung logam berat, formaldehida, akrolein, dan senyawa kimia lainnya. Tidak semua bahan yang aman dimakan juga aman untuk dihirup ke paru-paru.
  5. Meningkatkan risiko merokok pada remaja, Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape memiliki risiko lebih tinggi untuk kemudian menggunakan rokok konvensional.
  6. Berisiko bagi ibu hamil, Nikotin dapat mengganggu perkembangan janin. Karena itu, penggunaan vape selama kehamilan tidak dianggap aman.
  7. Berdampak pada orang sekitar, Aerosol vape dapat meningkatkan paparan nikotin dan partikulat di dalam ruangan, sehingga orang di sekitar pengguna juga dapat terpapar.
  8. Memiliki risiko keracunan dan kecelakaan, Cairan vape yang mengandung nikotin dapat menyebabkan keracunan jika tertelan atau terkena kulit dan mata. Baterai perangkat yang rusak juga dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan.

Bagi perokok dewasa yang sepenuhnya beralih dari rokok konvensional ke vape, paparan terhadap beberapa zat berbahaya dapat berkurang. Penelitian Cochrane juga menunjukkan vape bernikotin dapat membantu sebagian perokok berhenti.

Namun, hal ini tidak berarti vape aman, terutama bagi orang yang sebelumnya tidak merokok, remaja, dan ibu hamil. Penggunaan vape sekaligus rokok (dual use) juga bukan pilihan yang baik untuk melindungi kesehatan.

Vape bukan sekadar uap air dan bukan produk yang bebas risiko. Penggunaannya dapat menyebabkan ketergantungan nikotin, memengaruhi paru-paru dan jantung, serta menimbulkan berbagai risiko kesehatan lainnya.

Jika seseorang tidak merokok, sebaiknya jangan mulai menggunakan vape. Bagi perokok yang ingin berhenti, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan metode berhenti yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....