Dinkes Bintuni Siaga Dampak Asap Karhutla, Oksigen Disiapkan

  • 25 Agt 2026 19:33 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Teluk Bintuni mulai memunculkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan masyarakat. Selain ancaman api yang terus menjalar, paparan asap berpotensi memicu gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru maupun jantung.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni telah menyiapkan langkah antisipasi dengan mendistribusikan obat-obatan serta tabung oksigen ke sejumlah puskesmas yang berada di wilayah terdampak maupun berisiko terdampak asap kebakaran lahan.

Perhatian terhadap bahaya asap juga disampaikan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua. Ketua PDPI Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai zat berbahaya, seperti karbonmonoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, ozon, sulfur dioksida, hingga partikel pencemar udara berukuran sangat kecil.

Menurutnya, partikel PM10 dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Sementara partikel PM2,5 lebih berbahaya karena mampu masuk hingga ke dalam paru-paru dan aliran darah.

“Partikel halus ini dapat masuk ke dalam saluran napas dan paru sehingga menimbulkan gangguan paru dan jantung,” ujar Wiendo dalam materi edukasi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan di Bintuni, Senin (24/8/2026).

Ia menjelaskan, karbonmonoksida menjadi salah satu zat paling berbahaya karena mampu mengikat hemoglobin lebih kuat dibandingkan oksigen. Akibatnya, kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang.

Paparan asap dapat menimbulkan berbagai gejala kesehatan seperti mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, bersin, sesak napas, dada terasa berat hingga muncul bunyi mengi. Risiko tersebut meningkat pada kelompok rentan dan dapat memperparah penyakit yang telah diderita sebelumnya.

Selain meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), paparan asap juga berpotensi memperburuk asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), hingga memicu gangguan kesehatan serius pada penderita penyakit jantung.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, dr. Johannes Risamasu, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Tofoi, Babo dan kawasan SP-4 Distrik Manimeri.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Teluk Bintuni untuk mengenali gejala-gejala penyakit yang mungkin muncul akibat terdampak dari adanya kebakaran lahan,” kata Johannes.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, mengurangi aktivitas di ruang terbuka ketika kualitas udara memburuk, memperbanyak konsumsi air putih serta menjaga asupan gizi seimbang.

Menurut Johannes, masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan tidak perlu ragu memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.

“Jangan ragu-ragu menggunakan fasilitas layanan kesehatan yang ada, mulai dari Pustu, Puskesmas sampai RSUD Teluk Bintuni,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan telah menyiapkan stok obat-obatan di seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama. Selain itu, tabung oksigen juga mulai didistribusikan ke sejumlah puskesmas.

Puskesmas Tofoi telah menerima empat tabung oksigen, sementara kebutuhan serupa juga dipenuhi untuk Puskesmas Manimeri dan fasilitas kesehatan lainnya sesuai kondisi lapangan.

“Payung sebelum hujan. Jangan sampai sudah terjadi penyakit baru kita bingung,” kata Johannes.

PDPI Papua juga mengingatkan bahwa perlindungan terhadap asap tidak cukup hanya dengan memakai masker. Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela rumah, serta mengatur pendingin ruangan pada mode sirkulasi dalam (recirculate) agar udara tercemar dari luar tidak masuk ke dalam ruangan.

Selain itu, warga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin mencuci tangan, serta menghindari paparan asap rokok yang dapat memperburuk kualitas udara yang dihirup.

Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, batuk berdahak, mengi atau nyeri dada.

Di tengah upaya pemadaman kebakaran yang masih berlangsung, para tenaga kesehatan berharap masyarakat tidak hanya waspada terhadap api yang terlihat, tetapi juga terhadap ancaman partikel asap yang tidak kasat mata namun berpotensi membahayakan kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....