Mengenal Cutis Verticis Gyrata yang Langka

  • 06 Agt 2026 14:39 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Pernahkah Anda melihat kulit kepala yang tampak seperti permukaan otak manusia? Meski terdengar seperti kondisi yang hanya ada dalam buku medis, fenomena tersebut benar-benar nyata dan dikenal dengan nama Cutis Verticis Gyrata (CVG).

CVG merupakan kelainan langka yang menyebabkan kulit kepala menebal dan membentuk lipatan-lipatan dalam menyerupai lekukan serta tonjolan pada permukaan otak. Lipatan tersebut biasanya tidak dapat diratakan dengan tekanan tangan karena merupakan bagian dari struktur kulit yang telah mengalami perubahan. Menariknya, rambut tetap dapat tumbuh secara normal di atas area yang mengalami lipatan tersebut.

Menurut National Organization for Rare Disorders (NORD), Cutis Verticis Gyrata termasuk kondisi yang sangat jarang ditemukan. Kelainan ini pertama kali dideskripsikan dalam literatur medis pada tahun 1837 dan kemudian diberi nama resmi Cutis Verticis Gyrata oleh ahli saraf Prancis Jean Louis Marc Alibert pada awal abad ke-20.

Para ahli memperkirakan kondisi ini terjadi pada sekitar satu dari 100.000 pria. Kasus pada wanita jauh lebih jarang ditemukan. Sebagian besar penderita mulai menunjukkan perubahan pada kulit kepala setelah masa pubertas dan umumnya berkembang sebelum usia 30 tahun.

Menurut DermNet New Zealand, para dokter membagi CVG menjadi tiga kategori utama. Jenis pertama adalah primer esensial, yaitu kondisi yang muncul tanpa penyebab yang diketahui dan terjadi pada individu yang sehat tanpa gangguan lain. Jenis kedua adalah primer non-esensial, yang dapat berhubungan dengan gangguan neurologis, keterlambatan perkembangan, atau kondisi genetik tertentu seperti Fragile X Syndrome.

Sementara itu, jenis ketiga adalah CVG sekunder, yang muncul akibat penyakit atau kondisi medis lain. Salah satu penyebab yang paling dikenal adalah akromegali, yaitu gangguan hormonal akibat kelebihan hormon pertumbuhan yang menyebabkan pembesaran tangan, kaki, dan rahang. Selain akromegali, beberapa penyakit kulit dan gangguan metabolik juga dapat memicu munculnya CVG.

Meski tampilannya terlihat mencolok, para ahli menegaskan bahwa CVG tidak berhubungan dengan kelainan pada otak. Menurut Cleveland Clinic, perubahan yang terjadi hanya melibatkan jaringan kulit dan jaringan di bawahnya, bukan struktur otak atau sistem saraf pusat.

Kabar baiknya, Cutis Verticis Gyrata juga tidak termasuk penyakit yang berbahaya bagi sebagian besar penderitanya. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kondisi tersebut berkembang menjadi kanker kulit. Sebagian besar penderita tidak merasakan nyeri atau gangguan kesehatan serius akibat lipatan pada kulit kepala.

Namun, lipatan yang dalam terkadang dapat menyulitkan proses pembersihan kulit kepala. Jika kebersihan tidak dijaga dengan baik, area tersebut berisiko mengalami penumpukan keringat, minyak, atau sel kulit mati yang dapat menyebabkan iritasi dan infeksi ringan.

Karena alasan tersebut, beberapa penderita memilih menjalani perawatan medis atau prosedur bedah. Menurut laporan Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, tindakan operasi dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah lipatan atau memperbaiki penampilan kulit kepala, terutama jika kondisi tersebut menimbulkan gangguan psikologis atau estetika.

Meski tergolong langka, Cutis Verticis Gyrata menjadi salah satu contoh unik bagaimana tubuh manusia dapat mengalami perubahan yang tidak biasa. Kondisi ini juga mengingatkan bahwa penampilan fisik yang tampak berbeda tidak selalu menandakan penyakit berbahaya, dan pemahaman yang tepat dapat membantu mengurangi stigma terhadap mereka yang mengalaminya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....