Coercive Control: saat Cinta Berubah Menjadi Kendali

  • 12 Jul 2026 16:54 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Istilah coercive control semakin banyak dibahas dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga dan hubungan yang tidak sehat. Meski tidak selalu melibatkan kekerasan fisik, perilaku ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, rasa aman, dan kebebasan seseorang.

Menurut definisi yang dikembangkan oleh Office for National Statistics (ONS) Inggris, coercive control atau kontrol koersif merupakan pola perilaku yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan untuk mengendalikan, mengintimidasi, mengisolasi, atau membuat seseorang bergantung pada pelaku. Bentuknya tidak hanya berupa ancaman, tetapi juga penghinaan, manipulasi, pengawasan berlebihan, hingga pembatasan kebebasan korban dalam kehidupan sehari-hari.

Lembaga Australian Institute of Health and Welfare (AIHW) menjelaskan bahwa coercive control merupakan pola perilaku yang digunakan pelaku untuk membangun dan mempertahankan kekuasaan atas orang lain. Tujuannya adalah mengurangi kebebasan, otonomi, dan kemampuan korban dalam mengambil keputusan secara mandiri.

Dalam praktiknya, kontrol koersif dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, melarang pasangan bertemu keluarga atau teman, mengontrol keuangan, memeriksa telepon genggam tanpa izin, mengatur aktivitas sehari-hari, hingga membuat korban merasa bersalah atau takut jika tidak menuruti keinginan pelaku. Perilaku ini sering kali terjadi secara perlahan sehingga korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan psikologis.

Kamus Cambridge mendefinisikan coercive control sebagai tindakan mengendalikan perilaku orang lain melalui ancaman, paksaan, atau menciptakan rasa takut. Bahkan dalam sejumlah negara, tindakan tersebut telah diakui sebagai bagian dari kekerasan domestik meskipun tidak disertai kekerasan fisik.

Sejumlah penelitian dan laporan internasional menunjukkan bahwa dampak coercive control dapat berlangsung lama. Korban sering mengalami kehilangan kepercayaan diri, kecemasan, depresi, hingga kesulitan mengambil keputusan secara mandiri karena terus-menerus berada di bawah tekanan psikologis.

Pakar kekerasan dalam hubungan juga mengingatkan bahwa kontrol koersif kerap menjadi dasar dari berbagai bentuk kekerasan lainnya. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal seperti isolasi sosial, pengawasan berlebihan, ancaman, manipulasi emosional (gaslighting), dan kontrol keuangan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk luka fisik. Ketika seseorang kehilangan kebebasan, rasa aman, dan kendali atas kehidupannya akibat tekanan atau manipulasi yang terus-menerus, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya coercive control yang perlu mendapat perhatian dan penanganan serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....