Jelantah: Hemat di Kantong, Mahal di Kesehatan

  • 06 Mei 2026 13:08 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari- Minyak jelantah atau minyak goreng bekas masih sering digunakan masyarakat untuk mengolah makanan, terutama karena dinilai lebih hemat dan tetap menghasilkan rasa gurih pada gorengan. Namun di balik kenikmatan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Penggunaan minyak jelantah biasanya terjadi setelah minyak dipakai berulang kali untuk menggoreng berbagai jenis makanan. Semakin sering digunakan, kualitas minyak akan menurun. Perubahan warna menjadi lebih gelap, bau tengik, serta munculnya asap saat dipanaskan menjadi tanda bahwa minyak tersebut sudah tidak layak pakai.

Secara ilmiah, minyak yang dipanaskan berulang kali dapat mengalami proses oksidasi dan menghasilkan senyawa berbahaya seperti radikal bebas. Zat ini berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung dan kanker.

Meski demikian, tidak sedikit masyarakat yang tetap menggunakan minyak jelantah karena faktor ekonomi. Harga minyak goreng yang fluktuatif membuat sebagian orang memilih untuk memanfaatkannya kembali demi menghemat pengeluaran rumah tangga.

Para ahli kesehatan menyarankan agar penggunaan minyak goreng dibatasi maksimal dua hingga tiga kali pemakaian. Selain itu, penting untuk menyaring sisa makanan setelah menggoreng dan menyimpan minyak di tempat tertutup agar tidak cepat rusak.

Sebagai alternatif, masyarakat juga dapat mulai beralih pada pola memasak yang lebih sehat, seperti mengukus, merebus, atau memanggang. Cara ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada minyak, tetapi juga membantu menjaga kualitas gizi makanan.

Sumber : Berbagai Sumber

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....