Fenomena Earworm, saat Musik Menjadi "Hantu" di Pikiran

  • 06 Apr 2026 21:18 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Pernahkah Anda mendapati sebuah potongan lagu terus berputar di kepala tanpa henti, bahkan saat Anda sedang mencoba fokus pada hal lain? Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai Involuntary Musical Imagery (INMI), atau yang lebih populer dengan sebutan Earworm. Di era media sosial tahun 2026 ini, earworm menjadi semakin lazim terjadi karena paparan audio pendek yang repetitif dari berbagai platform video vertikal yang kita konsumsi setiap hari.

Secara neurologis, earworm terjadi ketika ada sirkuit terbuka di dalam korteks pendengaran otak. Saat kita mendengar potongan lagu yang memiliki ritme sederhana namun kuat, otak cenderung mencoba "melengkapi" sisa melodi tersebut secara mandiri. Proses pengulangan internal ini menciptakan semacam gatal mental (brain itch) yang hanya bisa dipuaskan dengan terus memutar melodi tersebut di dalam pikiran, sering kali di luar kendali kesadaran kita.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lagu-lagu yang paling sering menjadi earworm biasanya memiliki karakteristik tertentu, seperti tempo yang cepat dan pola interval yang tidak biasa namun mudah ditebak. Lagu-lagu viral seperti "Dia Turun Dia Naik" atau jingle iklan yang ikonik dirancang sedemikian rupa untuk memanfaatkan celah kognitif ini. Kecepatan transmisi informasi digital saat ini membuat frekuensi seseorang mengalami earworm meningkat signifikan dibandingkan dekade sebelumnya.

Meskipun sering kali dianggap sebagai gangguan kecil, earworm sebenarnya bisa menjadi indikator kondisi mental seseorang. Fenomena ini lebih sering muncul saat seseorang sedang berada dalam kondisi rileks, melamun, atau justru saat sedang stres berat. Otak menggunakan melodi tersebut sebagai mekanisme pertahanan untuk mengisi kekosongan atau mengalihkan perhatian dari kecemasan. Menariknya, orang-orang dengan tingkat obsesif-kompulsif yang lebih tinggi cenderung mengalami efek ini dengan durasi yang lebih lama.

Untuk mengatasi "serangan" earworm yang membandel, para ahli menyarankan beberapa teknik unik, salah satunya adalah dengan mengunyah permen karet. Aktivitas motorik pada rahang diketahui dapat mengganggu jalur memori jangka pendek yang digunakan otak untuk memutar ulang musik di dalam kepala. Selain itu, mendengarkan lagu yang menjadi earworm tersebut secara utuh dari awal hingga akhir sering kali membantu otak "menutup sirkuit" dan merasa bahwa tugas melengkapi melodi telah selesai.

Sebagai kesimpulan, earworm adalah bukti nyata betapa kuatnya pengaruh musik terhadap struktur kognitif manusia. Di tengah banjir informasi dan konten audio visual yang kian masif, memahami cara kerja otak dalam merespons suara menjadi sangat penting. Dengan mengenali fenomena ini, kita tidak perlu lagi merasa terganggu saat sebuah melodi hinggap di pikiran, melainkan menganggapnya sebagai cara unik otak kita dalam berinteraksi dengan dunia seni dan teknologi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....