Dua Bayi Weriagar Meninggal Bukan Gizi Buruk
- 23 Feb 2026 15:06 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni — Kepala Distrik Weriagar, Agustinus Hindom, angkat bicara terkait kabar meninggalnya dua bayi di wilayahnya yang disebut-sebut akibat gizi buruk. Ia menegaskan, informasi tersebut tidak benar dan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Menurut Agustinus, dua bayi yang meninggal dunia yakni Milka Jare (1,9 tahun) dari Kampung Weriagar Baru dan Meki Noware (8 bulan) dari Kampung Tuanaikin, wafat akibat diare akut disertai komplikasi, bukan karena gizi buruk sebagaimana diberitakan salah satu media lokal di Teluk Bintuni.
“Informasi ini harus diluruskan karena berpotensi menyesatkan. Tidak benar ada bayi di Weriagar meninggal akibat gizi buruk,” Katanya, Sabtu (21/2/2026).
| Baca juga: 6 Manfaat Labu Kuning untuk Kesehatan Tubuh |
Penjelasan tersebut diperoleh setelah ia berkoordinasi langsung dengan Kepala Puskesmas Weriagar, Simon Rumsayor A., serta menindaklanjuti hasil pelacakan lapangan yang dilakukan Tim PKM Weriagar bersama International SOS—lembaga kesehatan yang dikontrak BP Tangguh.
Dari hasil peninjauan, ditemukan persoalan mendasar di lingkungan tempat tinggal kedua bayi, terutama keterbatasan akses air bersih dan masih adanya rumah warga yang belum memiliki MCK atau jamban sehat. Kondisi ini dinilai menjadi faktor risiko utama munculnya penyakit diare di kalangan balita.
Agustinus kemudian memaparkan kronologi masing-masing kasus.
Milka Jare pertama kali dibawa berobat ke Puskesmas Weriagar pada 7 Februari 2026 dengan keluhan diare dan batuk. Pasien telah mendapatkan penanganan medis. Namun pada 14 Februari 2026 sekitar pukul 14.21 WIT, keluarga melaporkan kondisi anak semakin lemah disertai muntaber dan sesak napas di rumah.
Tim medis segera meminta pasien dibawa ke puskesmas untuk penanganan darurat. Setibanya di fasilitas kesehatan pukul 15.10 WIT, tim melakukan resusitasi sesuai prosedur. Namun kondisi pasien terus menurun dengan saturasi oksigen rendah dan penurunan kesadaran. Upaya resusitasi ulang tidak membuahkan hasil. Pada pukul 15.55 WIT, pasien dinyatakan meninggal dunia setelah melalui pemeriksaan tanda-tanda vital dan koordinasi dengan dokter puskesmas.
Sementara itu, bayi Meki Noware pertama kali dilaporkan ke tim medis pada 16 Februari 2026 pukul 22.02 WIT dengan keluhan muntaber. Pasien telah diberikan terapi dan pengobatan. Namun keesokan paginya, saat tim medis melakukan kunjungan ulang sekitar pukul 06.00 WIT, bayi tersebut telah meninggal dunia sekitar dua jam sebelumnya tanpa sempat mendapat penanganan lanjutan.
Peristiwa ini, menurut Agustinus, menjadi refleksi bersama bagi pemerintah distrik dan masyarakat. Ia berkomitmen untuk memperkuat edukasi kebersihan lingkungan sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten guna memperbaiki infrastruktur dasar, terutama penyediaan air bersih.
“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ke depan, kami akan fokus pada pembenahan sarana air bersih dan mendorong masyarakat menjaga kebersihan lingkungan demi mencegah kasus serupa terulang,” Ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....