Batuk Rejan Disebut Batuk 100 Hari? Ini Penjelasannya

  • 17 Feb 2026 09:31 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari : Di tengah masyarakat, istilah “batuk 100 hari” masih sering digunakan untuk menggambarkan batuk yang tak kunjung sembuh. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai batuk rejan atau pertusis, yaitu infeksi saluran pernapasan yang dapat berlangsung hingga sekitar tiga bulan.

Batuk rejan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini memiliki fase yang panjang, dimulai dari gejala ringan menyerupai flu, kemudian berkembang menjadi batuk berat yang terjadi berulang kali dan sulit dikendalikan.

Pada fase awal, penderita biasanya mengalami pilek, bersin, dan batuk ringan selama satu hingga dua minggu. Namun setelah itu, batuk akan semakin parah dan bisa berlangsung selama enam hingga delapan minggu. Batuk terjadi terus-menerus, sering kali disertai suara tarik napas panjang, bahkan dapat menyebabkan muntah dan kelelahan. Masa pemulihan pun tidak berlangsung singkat, karena batuk bisa muncul kembali meski intensitasnya sudah berkurang.

Jika seluruh fase tersebut dijumlahkan, durasi penyakit dapat mencapai kurang lebih 100 hari, sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai batuk 100 hari.

Tenaga kesehatan menjelaskan, lamanya batuk terjadi karena bakteri pertusis merusak silia atau rambut halus di saluran pernapasan yang berfungsi membersihkan lendir. Akibatnya, tubuh memerlukan waktu cukup lama untuk memperbaiki kerusakan tersebut, meskipun infeksi sudah mulai mereda.

Batuk rejan tergolong berbahaya bagi bayi dan anak-anak, karena dapat menyebabkan sesak napas, pneumonia, bahkan komplikasi serius lainnya. Sementara pada orang dewasa, penyakit ini jarang berakibat fatal, namun sangat mengganggu aktivitas karena batuk yang berkepanjangan.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak menganggap remeh batuk yang berlangsung lama. Tidak semua batuk berkepanjangan adalah batuk rejan. Beberapa penyakit lain seperti tuberkulosis (TBC), asma, alergi, maupun gangguan asam lambung juga dapat menyebabkan batuk kronis.

Sebagai langkah pencegahan, tenaga kesehatan menekankan pentingnya imunisasi DPT pada anak, yang terbukti efektif melindungi dari penyakit pertusis. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila batuk berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu.

Dengan pemahaman yang baik, diharapkan masyarakat lebih waspada dan tidak menunda penanganan, sehingga risiko penularan dan komplikasi dapat dicegah sejak dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....