Diam Saat Marah, Kenapa Bisa Terjadi? Ini Penjelasannya
- 04 Feb 2026 11:36 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari: Saat marah, tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang sedang mereka pikirkan atau rasakan. Alih-alih berbicara, sebagian justru memilih diam dan menarik diri melalui silent treatment. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri dan pengalaman emosional seseorang.
Dilansir dari kajian psikologi emosi, kemarahan dapat membuat seseorang mengalami emotional overload atau kelebihan beban emosi. Dalam keadaan ini, otak kesulitan memproses pikiran secara jernih sehingga kata-kata terasa sulit keluar. Diam dipilih sebagai cara paling aman untuk mencegah ucapan yang berpotensi menyakiti orang lain atau memperburuk konflik.
| Baca juga: Silent Treatment, Tanpa Sadar Menyakiti |
Selain itu, silent treatment juga dapat muncul dari ketakutan akan konflik. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang menghindari pertengkaran cenderung menahan emosi karena menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman. Akibatnya, perasaan marah tidak diluapkan secara verbal, melainkan dipendam melalui sikap diam.
Faktor lain yang berpengaruh adalah kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi. Individu dengan kemampuan regulasi emosi yang rendah atau alexithymia sering kali tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sendiri. Silent treatment kemudian menjadi jalan keluar karena mereka merasa tidak memiliki kata yang tepat untuk mengungkapkan isi pikiran.
Silent treatment bukan selalu tanda tidak peduli, melainkan sinyal adanya konflik batin dan ketidakmampuan mengelola emosi saat marah. Meski demikian, pola ini tetap berisiko merusak hubungan jika terjadi berulang. Belajar mengenali emosi dan membangun komunikasi yang aman menjadi langkah penting untuk menggantikan diam dengan dialog yang lebih sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....