El Nino Makin Kuat, Indonesia Harus Waspada Sekarang
- 30 Agt 2026 15:56 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari: El Nino merupakan salah satu fenomena iklim paling penting di dunia. Fenomena ini merupakan bagian dari El Nino Southern Oscillation (ENSO), yaitu interaksi kompleks antara atmosfer dan lautan di wilayah tropis Samudra Pasifik.
El Nino ditandai terutama oleh pemanasan suhu permukaan laut yang tidak biasa di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis, disertai perubahan pola angin dan sirkulasi atmosfer.
Meskipun berpusat di Samudra Pasifik, pengaruh El Nino dapat dirasakan jauh dari wilayah tersebut. Perubahan distribusi panas dan uap air di Pasifik dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer sehingga memengaruhi curah hujan, suhu, kekeringan, kebakaran hutan, ekosistem laut, pertanian, hingga perekonomian di berbagai wilayah dunia.
Menurut BMKG, ketika El Nino berlangsung, daerah pertumbuhan awan dan hujan cenderung bergeser dari wilayah Indonesia menuju wilayah Pasifik tengah. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan meteorologis.
| Baca juga: Trik Sederhana agar Aman di Media Sosial |
Dampaknya dapat muncul dalam berbagai sektor seperti:
- Kekeringan
Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan cadangan air tanah, waduk, sungai, dan sumber air lainnya menurun. Jika berlangsung cukup lama, kondisi ini dapat berkembang menjadi kekeringan yang berdampak pada kebutuhan rumah tangga maupun sektor ekonomi. - Pertanian
Ketersediaan air merupakan faktor penting dalam produksi pertanian. Musim kemarau yang lebih panjang dapat mengganggu jadwal tanam, meningkatkan kebutuhan irigasi, dan menurunkan produktivitas tanaman tertentu, dampaknya tidak selalu sama di seluruh Indonesia karena kondisi lokal, jenis tanaman, sistem irigasi, dan waktu terjadinya El Nino juga berpengaruh. - Kebakaran hutan dan lahan
Kondisi yang lebih panas dan kering dapat membuat vegetasi dan bahan organik di permukaan tanah lebih mudah terbakar. Karena itu, El Nino dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila kondisi kering berlangsung berkepanjangan. BMKG pada 2026 juga menempatkan ketersediaan air dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi El Nino - Sumber daya air
Kekeringan dapat meningkatkan tekanan terhadap sumber air untuk konsumsi masyarakat, pertanian, industri, dan pembangkit listrik tenaga air. - Ekosistem
Perubahan suhu dan curah hujan dapat memengaruhi ekosistem darat maupun laut. Di kawasan laut Pasifik timur, misalnya, melemahnya upwelling selama El Nino dapat mengurangi pasokan nutrien ke permukaan dan memengaruhi produktivitas laut serta perikanan.
El Nino meningkatkan risiko kondisi kering, tetapi bukan berarti setiap wilayah Indonesia pasti mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama.
BMKG melaporkan bahwa pada dasarian I Agustus 2026, nilai anomali suhu permukaan laut wilayah Niño 3.4 mencapai +2,77°C, dibandingkan +2,20°C pada Juli, dan mengategorikannya sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pada periode yang sama, BMKG memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa hubungan antara El Niño dan perubahan iklim merupakan persoalan yang kompleks. Pemanasan global dapat mengubah kondisi dasar sistem iklim dan berpotensi memengaruhi karakteristik ENSO, tetapi besarnya perubahan dan bagaimana tepatnya ENSO akan berevolusi masih menjadi bidang penelitian aktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....