Brain Rot Adalah Ancaman Nyata akibat Kebiasaan Scroll Berlebihan
- 24 Jul 2026 17:49 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari: Brain rot menjadi salah satu istilah yang paling banyak dibicarakan di media sosial dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Oxford University Press menetapkan brain rot sebagai Word of the Year 2024, karena mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital yang dangkal dan berlebihan.
Meski terdengar seperti istilah medis, brain rot bukanlah diagnosis atau penyakit yang diakui dalam dunia kedokteran. Istilah ini lebih merupakan ungkapan populer yang menggambarkan penurunan kemampuan berpikir kritis, fokus, atau produktivitas akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang kurang menantang.
Menurut Oxford English Dictionary (OED), brain rot adalah Penurunan yang dirasakan pada kemampuan mental atau intelektual seseorang, terutama akibat terlalu banyak mengonsumsi materi yang dianggap sepele, tidak menantang, atau berkualitas rendah, khususnya di internet.
Awalnya, istilah ini telah digunakan sejak tahun 1854 dalam buku Walden karya Henry David Thoreau, tetapi maknanya berkembang seiring pesatnya penggunaan media sosial dan konten video berdurasi singkat.
Fenomena Brain rot ini muncul karena semakin banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk Menonton video pendek tanpa henti (endless scrolling), Mengonsumsi meme atau konten hiburan secara berlebihan, Berpindah cepat dari satu konten ke konten lain, Menghabiskan waktu di media sosial tanpa tujuan yang jelas.
Konten seperti ini memberikan rangsangan instan sehingga otak terbiasa mencari hiburan cepat dibandingkan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku atau mempelajari keterampilan baru.
Para ahli menegaskan bahwa brain rot bukan penyakit medis, namun kekhawatiran yang mendasarinya didukung oleh sejumlah penelitian mengenai dampak penggunaan media digital secara berlebihan.
Berbagai studi menemukan hubungan antara penggunaan layar yang sangat tinggi dengan:
- Menurunnya kemampuan mempertahankan perhatian.
- Kelelahan mental.
- Gangguan kualitas tidur
- Kesulitan mengingat informasi
- Peningkatan kecemasan pada sebagian individu
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa bukan semua penggunaan internet berdampak buruk. Yang paling menentukan adalah jenis konten yang dikonsumsi, durasi penggunaan, serta tujuan penggunaannya.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Brain Rot
Beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan fenomena ini antara lain:
- Sulit fokus saat membaca artikel atau buku.
- Merasa bosan jika tidak membuka media sosial.
- Terus-menerus melakukan scrolling tanpa sadar.
- Sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.
- Lebih tertarik pada hiburan singkat daripada aktivitas yang membutuhkan usaha berpikir.
- Produktivitas belajar atau bekerja menurun.
Perlu diingat bahwa tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, melainkan dapat menjadi sinyal bahwa kebiasaan digital perlu dievaluasi.
Dampak Brain Rot dalam Kehidupan Sehari-hari
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat berupa:
- Penurunan kualitas belajar.
- Berkurangnya kemampuan berpikir kritis.
- Sulit menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
- Waktu produktif berkurang karena terlalu lama menggunakan media sosial.
- Gangguan pola tidur akibat penggunaan gawai hingga larut malam.
Cara Mencegah Brain Rot
Dilansir dari The Washington Post para pakar menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan otak di era digital:
- Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari.
- Hindari penggunaan ponsel sebelum tidur
- Sisihkan waktu untuk membaca buku atau artikel yang lebih mendalam.
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Latih otak dengan belajar keterampilan baru.
- Gunakan media sosial secara sadar, bukan sekadar mengisi waktu luang.
- Berikan jeda dari layar (digital detox) secara berkala.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....