AI Terapis dan Ancaman Baru Kesehatan Mental
- 03 Des 2025 15:44 WIB
- Manokwari
KBRN, Manokwari: Kemunculan layanan berbasis kecerdasan buatan sebagai “teman curhat” kini makin populer, terutama bagi mereka yang mencari solusi cepat dan murah untuk mengatasi stres atau masalah emosional. Namun, penelitian terbaru dari Brown University yang ditulis dalam Sci Tech Daily, memperingatkan bahwa AI sebagai terapis justru dapat menimbulkan risiko serius jika digunakan tanpa pengawasan. Alih-alih membantu, sistem ini berpotensi memberikan respons yang keliru karena tidak memahami konteks pribadi pengguna.
Para peneliti menemukan 15 potensi masalah etis, mulai dari empati semu hingga respons generik yang tidak mempertimbangkan latar belakang individu. Dalam beberapa kasus, AI bahkan memvalidasi pikiran negatif pengguna, atau mengarahkan percakapan ke arah yang tidak sehat. Tidak seperti terapis manusia yang dilatih untuk membaca tanda bahaya, AI tidak mampu mengenali kondisi krisis seperti trauma mendalam.
Risiko lain muncul dari aspek privasi dan keamanan data. Ungkapan perasaan yang seharusnya bersifat rahasia dapat tersimpan di server tanpa jaminan perlindungan layaknya layanan psikolog profesional. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pengguna tanpa sadar menyerahkan informasi sensitif pada sistem yang tidak memiliki mekanisme akuntabilitas yang jelas.
Di Indonesia, keterbatasan akses layanan kesehatan mental membuat masyarakat semakin tergoda menggunakan AI sebagai alternatif. Meski praktis, penggunaan AI secara penuh justru dapat membuat seseorang semakin terisolasi dan menghindari bantuan manusiawi yang sebenarnya diperlukan. Pakar psikologi juga mengingatkan bahwa curhat ke AI tidak seharusnya menggantikan konsultasi dengan tenaga profesional.
Dilansir dari Sci Tech Daily, penelitian ini menegaskan bahwa AI bukan pengganti terapis, melainkan hanya dapat menjadi alat pendukung yang sifatnya terbatas. Masyarakat perlu lebih berhati-hati, sementara pengembang dan regulator harus menyiapkan standar etika serta pengawasan yang jelas. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat tetap dimanfaatkan tanpa mengorbankan keselamatan mental penggunanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....