DP3AKB Dorong Perlindungan Hukum Perempuan dan Anak

  • 29 Jul 2026 19:17 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A&KB) Kabupaten Manokwari, Alberthina Porulery, mengatakan masih terdapat hak-hak perempuan dan anak yang belum terlindungi secara optimal. Karena itu, pihaknya terus memperkuat sosialisasi, edukasi, dan pendampingan agar korban berani melaporkan tindak kekerasan.

Alberthina mengatakan banyak korban belum memahami jalur hukum yang dapat ditempuh ketika mengalami kekerasan. Selain itu, intimidasi, tekanan, dan rasa takut juga menjadi alasan korban memilih untuk tidak melaporkan kasus yang dialaminya.

“Kami berharap melalui pendampingan yang semakin intensif selama tahun 2026, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat ditekan sehingga hak-hak mereka terlindungi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Alberthina.

Menurutnya, faktor ekonomi masih menjadi salah satu pemicu utama munculnya konflik dalam rumah tangga. Selain itu, persoalan adat, pernikahan usia dini, dan ketidaksiapan pasangan dalam membangun rumah tangga juga dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ia menjelaskan hingga semester pertama 2026, DP3AKB Kabupaten Manokwari telah menangani sebanyak 27 kasus kekerasan terhadap perempuan. Budaya diam yang masih berkembang di masyarakat juga menjadi tantangan karena membuat banyak korban memilih bertahan dibanding melaporkan kasus yang dialami.

Alberthina menambahkan perlindungan anak harus dimulai sejak dini, bahkan sejak masa persiapan pernikahan hingga kehamilan. Melalui kolaborasi bersama BKKBN Papua Barat, DP3AKB terus melakukan pendampingan kepada calon keluarga, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita sebagai upaya pencegahan berbagai persoalan yang dapat mengancam tumbuh kembang anak.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melindungi perempuan dan anak sebagai aset bangsa. Menurutnya, keberanian melapor, dukungan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mencegah kekerasan dan mewujudkan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....