Mengenal Sejarah Hompimpa Alaium Gambreng

  • 06 Agt 2026 10:40 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Bagi generasi yang tumbuh dengan permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, atau petak jongkok, kalimat "Hompimpa Alaium Gambreng" tentu sudah tidak asing lagi. Kalimat ini biasa diucapkan bersama-sama sebelum permainan dimulai untuk menentukan giliran, memilih penjaga, atau menentukan siapa yang kalah dan menang.

Meski sangat populer di Indonesia, asal-usul pasti kalimat "Hompimpa Alaium Gambreng" hingga kini masih menjadi perdebatan. Belum ada catatan sejarah atau literatur yang secara pasti menjelaskan kapan dan di mana kalimat tersebut pertama kali digunakan.

Menurut sejumlah kajian budaya yang dikutip berbagai sumber, salah satu teori yang cukup dikenal menyebut bahwa kalimat tersebut berasal dari bahasa Sanskerta. Peneliti permainan tradisional Indonesia sekaligus pendiri Komunitas Hong, Zaini Alif, menjelaskan bahwa frasa "Hongpimpa Alaihong" memiliki makna filosofis "dari Tuhan kembali kepada Tuhan", sedangkan kata "Gambreng" diartikan sebagai ajakan untuk memulai permainan atau bertindak. (Histories Net)

Dalam perkembangannya, kalimat tersebut mengalami perubahan pelafalan hingga menjadi "Hompimpa Alaium Gambreng" seperti yang dikenal masyarakat saat ini. Secara filosofis, makna tersebut mengandung pesan tentang menerima hasil dengan lapang dada karena segala sesuatu pada akhirnya berada dalam ketentuan Yang Maha Kuasa.

Selain memiliki nilai budaya, hompimpa juga mengajarkan prinsip keadilan. Tidak ada pemain yang dapat menentukan hasil secara sepihak karena keputusan ditentukan melalui mekanisme sederhana yang disepakati bersama. Nilai inilah yang membuat hompimpa bertahan selama puluhan tahun sebagai bagian dari permainan tradisional anak-anak Indonesia.

Popularitas hompimpa semakin meluas pada era 1980-an hingga 1990-an melalui tayangan televisi Si Unyil di TVRI. Meski sudah dikenal sebelumnya, banyak pengamat budaya menilai acara tersebut berperan besar dalam memperkenalkan hompimpa kepada anak-anak di berbagai daerah Indonesia.

Dalam praktiknya, hompimpa dilakukan oleh tiga orang atau lebih. Para pemain mengayunkan tangan sambil mengucapkan kalimat "Hompimpa Alaium Gambreng". Setelah kata terakhir diucapkan, setiap pemain menunjukkan telapak atau punggung tangannya. Posisi tangan yang berbeda dari mayoritas biasanya menjadi penentu siapa yang terpilih.

Meskipun era digital telah menghadirkan berbagai bentuk hiburan baru, hompimpa tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia. Bukan sekadar cara mengundi, tradisi ini juga mencerminkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan penerimaan terhadap hasil yang diperoleh bersama.

Hompimpa menjadi bukti bahwa permainan sederhana yang diwariskan turun-temurun dapat mengandung makna budaya dan filosofi yang mendalam, sekaligus menjadi bagian penting dari identitas permainan tradisional Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....