Trauma Bonding, saat Korban Sulit Lepas dari Hubungan yang Menyakitkan
- 14 Jul 2026 06:10 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Tidak semua hubungan yang penuh luka mudah diakhiri. Dalam beberapa kasus, seseorang justru merasa semakin terikat dengan pasangan yang berulang kali menyakitinya. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai trauma bonding.
Menurut Psychology Today, trauma bonding merupakan ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku dalam hubungan yang abusif atau penuh kekerasan. Ikatan ini muncul melalui siklus perlakuan buruk yang diselingi dengan perhatian, kasih sayang, atau permintaan maaf, sehingga korban tetap merasa terhubung dan sulit meninggalkan hubungan tersebut.
Psikolog menjelaskan bahwa trauma bonding bukan berarti dua orang menjadi dekat karena sama-sama pernah mengalami trauma. Istilah ini justru merujuk pada keterikatan emosional korban kepada orang yang menyakitinya. Kesalahpahaman mengenai istilah ini cukup sering terjadi di masyarakat maupun media sosial.
Menurut artikel yang dimuat Medical News Today, trauma bonding merupakan respons psikologis terhadap kekerasan atau perlakuan buruk yang terjadi secara berulang. Korban dapat mengembangkan simpati, rasa kasihan, bahkan ketergantungan emosional kepada pelaku karena siklus kekerasan yang diikuti oleh penyesalan atau perlakuan baik dari pelaku.
Sementara itu, Psychology Today menyebutkan bahwa hubungan yang mengalami trauma bonding biasanya ditandai dengan pola manipulasi, ancaman, kontrol berlebihan, gaslighting, penghinaan, hingga isolasi dari keluarga dan teman. Di sela-sela perilaku tersebut, pelaku kerap menunjukkan kasih sayang atau perhatian yang membuat korban kembali berharap hubungan akan membaik.
Beberapa tanda seseorang mengalami trauma bonding antara lain merasa selalu berhati-hati agar tidak memicu kemarahan pasangan, sulit meninggalkan hubungan meskipun sadar sedang disakiti, terus memaafkan perilaku buruk pasangan, serta merasa hidupnya tidak dapat berjalan tanpa orang tersebut. Korban juga sering menyalahkan diri sendiri atas tindakan pelaku.
Para ahli menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena otak terbiasa dengan pola "hukuman dan hadiah". Saat pelaku kembali menunjukkan perhatian setelah melakukan kekerasan atau manipulasi, korban merasakan kelegaan yang kuat. Perasaan tersebut kemudian memperkuat ikatan emosional dan membuat hubungan semakin sulit ditinggalkan.
Menurut Healthline, trauma bonding umumnya berkembang melalui siklus yang berulang, mulai dari fase perhatian berlebihan (love bombing), membangun kepercayaan, kritik dan manipulasi, hingga munculnya permintaan maaf dan harapan baru. Siklus ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan mengikis kepercayaan diri korban secara perlahan.
Para pakar kesehatan mental menekankan bahwa trauma bonding bukanlah bentuk cinta yang sehat. Sebaliknya, kondisi ini merupakan ikatan yang terbentuk dari ketakutan, ketergantungan, dan manipulasi emosional. Karena itu, dukungan keluarga, teman, serta bantuan profesional menjadi langkah penting untuk membantu korban keluar dari hubungan yang merugikan dan memulai proses pemulihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....