Di Balik Sebutan Air Mata Buaya
- 15 Mei 2026 02:01 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari- Siapa diantara kita yang pernah mendengar Istilah “air mata buaya” tapi bingung dengan maknannya. Sebutan ini biasanya diberikan kepada seseorang yang menangis atau terlihat sedih, namun dianggap tidak sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura demi mendapatkan simpati dari orang lain.
Ungkapan tersebut ternyata memiliki sejarah dan makna yang cukup menarik salah satunya Menurut leksikografer Inggris, Susie Dent, bahwa ungkapan air mata buaya yang berarti menunjukkan ekspresi sedih yang tidak tulus berasal dari pertengahan abad ke-16. Dalam berbagai cerita lama, buaya dipercaya menangis saat sedang memakan mangsanya. Karena itulah muncul anggapan bahwa tangisan buaya bukanlah tanda kesedihan, melainkan bagian dari tipu daya. Dari situlah lahir istilah “air mata buaya” yang menggambarkan tangisan palsu atau rasa sedih yang dibuat-buat.
| Baca juga: Cara Simpel atasi Maskara yang Kering |
Secara ilmiah, buaya sebenarnya memang dapat mengeluarkan cairan dari matanya. Namun hal itu bukan karena sedih atau menyesal, melainkan proses alami untuk menjaga kelembapan mata dan membantu membersihkan kelenjar di sekitar mata mereka.
Dalam kehidupan sosial, istilah ini sering digunakan untuk menyindir orang yang berpura-pura menyesal setelah melakukan kesalahan. Misalnya seseorang yang baru meminta maaf setelah ketahuan berbuat salah, atau menangis demi menghindari hukuman.
| Baca juga: Reptil Unik yang Bisa Hidup Puluhan Tahun |
Meski begitu, penggunaan sebutan “air mata buaya” juga perlu hati-hati. Tidak semua orang yang menangis berarti sedang berpura-pura. Ada kalanya seseorang memang benar-benar menyesal atau merasa sedih. Karena itu, penting untuk memahami situasi sebelum memberikan penilaian kepada orang lain.
Ungkapan ini menjadi salah satu contoh bagaimana perilaku hewan sering dijadikan perumpamaan dalam bahasa sehari-hari. Selain mudah dipahami, istilah “air mata buaya” juga terus digunakan hingga sekarang sebagai gambaran sikap yang dianggap tidak tulus.
Sumber : Britannica, historia.id
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....